Saturated

Ada orang yang bisa menyakiti hati orang lain dengan sekali tatapan saja 

ada yang bisa menyakiti orang juga dengan ucapannya dan ada yang bisa menyakiti orang dengan tindakannya.

aku tak paham, di tengah gerimisnya kota ini aku hanya ingin terdiam. entah kenapa…

aku memendam rasa di kota ini, rasa bersalah. setiap orang yang melihatku rasanya ada ketakutan di dada ini

ada tangis yang ingin ku keluarkan ada air yang ingin keluar dari mata dan hidungku,,, tetapi aku menyanggahnya dengan mengatakan itu bukan air mata…

entah untuk berapa kalinya aku menghayalkan mu dia kamu engkau mereka dan entah siapa lagi

bahkan kini aku tak tau siapa aku sebenarnya….

tubuhku telah tertelan oleh semua khayalan-khayalanku…

indera perasa ku entah pergi kemana..

aku takut…

takut menatap mata mereka, takut mereka menatapku… takut dengan omongan mereka… takut jika nantinya aku akan ditinggal,,, aku takut menatap masa depan…

entah kemana diri yang selalu percaya diri itu..

 

tentang Aira

Metode pembelajaran Bahasa arab

No

Metode

Latar belakang muncul

1.

Metode tata bahasa tarjamah

Merupakan kombinasi dari dua metode qowaid dan tarjamah , hasil karya pemikir jerman, johan S, karl ploty, S hendrif, johan heidinger di AS . disebut juga dengan metode Prussia

2.

Metode langsung ( at thariqah al mubasyarah)

Dikembangkan oleh Charles berlitz,akibat penolakan dari metode tarjamah . metode langsung adalah latihan percakapan terus menerus antara murid dan guru dengan menggunakan bahasa arab tanpa menggunakan bahasa ibu.

3.

Metode audiolingual (at thariqah al samiyah al syafawiyah )

Muncul pada tahun pertama perang dunia ke II . dimana  AS membutuhkan penerjemah dan pembicara dalam bahasa asing. Berkembang dan memanfaatkan teori behavioristik, memanfaatkan banyak metode dengar ucap dan merupakan pengembangan dari metode langsung.

4.

Metode komunikatif ( al madkhal al ittishaliy)

Mulai berkembang bertepatan dengan terjadinya perubahan trdisi pengajaran bahasa inggris pada tahun 1960. Lahirnya metode ini merupakan hasil dari kajian tenttang pemerolehan bahasa.

5.

Metode respon fisik total (thariqah al istijabah al jasmaniayah al kamilah

Dikembangkan oleh james J asher, dia memulai eksperiment pengembangan bahasa dengan memanfaatkan gerakan tubuh .

6.

Metode guru diam (at thariqah as syamitah)

Dicetuskan oleh Calleb gattego dirintis pada tahun 1954. Di dasarkan pada guru sebaiknya diam dan membiarkan siswa untuk lebih banyak mengeluarkan pendapatnya

7.

Metode belajar bahasa berkelompok (thariqah taalum al lughoh min khilal al mujtama)

Diperkenalkan oleh Charles A curran tahun 1976. Proses pengajaran bahasa dengan mengobati pasian dengan  psikiater, dilandasi oleh factor sikap, emosi dan motivasi mempelajari bahasa asing.

8.

Metode alamiah (at thariqah al insyaniah at tabaiyah)

Dirintis pada tahun 1976 oleh tracy D terrel. Ia mengembangkan pengajaran bahsa spanyol dengan menerapkan prinsip prinsip naturalistic yang ada dalam ilmu pemerolehan bahasa kedua. Terrel juga bekerja sama dengan Stephen D kressen untuk mengembangkan teori teori yang melandasi metode alamiah.

9.

Metode seggestopedia (ath thariqah al ilhaiyah)

Dirintis pada tahun 1975di Bulgaria oleh gorgie lazanov yang sedang melakukan penelitian mengenai pengajaran bahasa asing. Sugestopedia adalah ilmu yang mempelajari secara sistematis tentng pengaruh pengaruh yang tidak disadari terhadap prilaku manusia. Enam komponen sugestopedia yaitu kekuasaan, infantilisasi, sumber belajar ganda, intonasi, irama dan sikap yang santai.

No

Metode

\

 

1

Metode tata bahasa tarjamah

Berasumsi bahwa tata bahasa merupakan bagian dari filsafat dan logika, dapat memperkuat kemampuan berfikir logis dan memperkuat kemampuan menghapal.

2

Metode langsung ( at thariqah al mubasyarah)

Bahasa sebagai system lisan bukan tulisan, sebagai suatu himpunan dari aturan tata bahasa dan kosakata yang terkait dengan situsasikan yang riil.

3

Metode audiolingual (at thariqah al samiyah al syafawiyah )

Bahasa adalah ujaran, pengajaran bahasa harus dimulai dengan memperdengarkan  bunyi –bunyi . bahasa dalam bentuk kalimat kemudian mengucapkannya.

4

Metode komunikatif ( al madkhal al ittishaliy)

Fungsi intstrumental-fungsi pengaturan- fungsi interaksional- fungsi personal- fungsi heuristic- fungsi imajinatif- fungsi perwakilan.

5

Metode respon fisik total (thariqah al istijabah al jasmaniayah al kamilah

Metode ini menganggap kata kerja sebagai kata perintah  yang paling penting untuk diajarkan.

6

Metode guru diam (at thariqah as syamitah)

Bahasa sebagai pengganti pengalaman, pengalamanlah yang memberikan makna kepada bahasa.

7

Metode belajar bahasa berkelompok (thariqah taalum al lughoh min khilal al mujtama)

Dilandasi oleh  konsep interaksional bahasa sebagai proses social. Digunakan untuk memperdalam keintiman antar klien dan konselor. Teori linguistic sebagai pendahuluan untuk penyajian bahasa berkelompok.

8

Metode alamiah (at thariqah al insyaniah at tabaiyah)

Menekankan pada keunggulan makna , kegunaan kkosakata sangat ditekankan. Didasarkan pada teori yang memandang bahasa sebagai alat unruk komunikasi, menyampaikan maksud dan alat untuk menyampaikan pesan.

9.

Metode seggestopedia (ath thariqah al ilhaiyah)

Kosakata merupakan sentral dan terjemahanny lebih banyak mendapatkan penekanan daripada kontekstualisasi. Dan juga terkadang mengacu pada pentingnya menyajikan materi bahasadalam keseluruhan teks yang bermakna dan terencana.

No

Metode

Hakikat pembelajaran bahasa

1.

Metode tata bahasa tarjamah

Bahasa sebagai system kesatuan , kosakata dalam bahasa sasaran diajarkan melalui terjemahan langsung bahasa ibu. Pengajaran tata bahasa diperlukan cagar para siswa mengetahui kata demi kata disusun untuk mengungkapkan gagasan. Pengajaran bahasa sangat mengutamakan teori teori tentang rumus rumus kebahasaan.

2.

Metode langsung ( at thariqah al mubasyarah)

Belajar bahasa asing sama dengan belajar bahasa ibu. Makna bahasa akan lebih jelas bila disajikan dengan benda fisik. Self correction. Kosakata lebih mudah dipelajari dengan menggunakan kalimat dibandingkan hapalan. Mengajar berarti menjadi mitra bagi siswa

3.

Metode audiolingual (at thariqah al samiyah al syafawiyah )

Bahasa adalah lisan bahasa adalah kebiasaan, yang harus diajarkan adalah bahasa bukan mengenai bahasa. Bahasa adalah apa yang diajarkan, bahasa berbeda antara satu sama lain.

4.

Metode komunikatif ( al madkhal al ittishaliy)

Prinsip komunikasi (semua kegiatan bahasa yang melibatkan siswa secara aktif)

Prinsip tugas(pembelajran bisa berjalan dengan baik bila bahasa ditujukan dengan penyelesaian tugas yang bermakna. Prinsip kebermaknaan( bahasa harus bisa member makna kepada siswa)

5.

Metode respon fisik total (thariqah al istijabah al jasmaniayah al kamilah

Pembelajaran bisa berlangsung ketiak siswa mengamati tindakan lalu melaksanakan tindakan tersebut. Mendasarkan diri pada pemahaman tentang potensi fungsi otak kanan dan otak kiri.

6.

Metode guru diam (at thariqah as

syamitah)

Belajar sebagai pekerjaan yang disengaja, dilakukan dengan sadar atas kemauan yang keras. Belajar sebagai proses mengasimilasi hasil-hasil aktivitas mental.

7.

Metode belajar bahasa berkelompok (thariqah taalum al lughoh min khilal al mujtama)

Security-(rasa aman dengan rekan sekelas) attention agresif (siswa berperan aktif dalam kelas) reflection retention ( memahami menghayati dan memanfaatkan apa yang dipelajari) discrimination(pembedaan).

8.

Metode alamiah (at thariqah al insyaniah at tabaiyah)

Hipotesis pemerolehan dan pembelajaran. Hipotesis urutan alamiah. Hipotesis monitor. Hipotesis masukan. Hipotesis saringan sikap.

9.

Metode seggestopedia (ath thariqah al ilhaiyah)

Factor sugesti –pendekatan yang digunakan guru. –kewibawaan.-kepercayaan dari pihak siswa- kedwiperasaan kominikasi-seni.

Asumsi dasaar tentang pembelajaran. Belajar itu melibatkan fungsi sadar dan dibawah sadar. Pelajar mampu belajar lebih cepat dibandingkan metode lainnya. Proses belajar mengajar dapat terhambat oleh beberapa factor , norma norma umum dan kurangnya suasana yang santai.

 

 

 

No

Metode

Desain metode

1

Metode  tata bahasa tarjamah

Tujuan umum mengembangkan kemampuan membaca literature yang ditulis dalam bahasa sasaran. Model silabus didasarkan pada tingkat kemudahan tata bahasa. Jenis kegiatan pembelajaran para siswa diajar untuk menerjemahkan bahasa (arab-indonesia) peranan guru dan siswa guru pemilik otoritas di dalam kelas paara siswa melakukan apa yang dikatakan guru.

2

Metode langsung ( at thariqah al mubasyarah)

Tujuan umum siswa mempelajari caranya berkomunikasi dalam bahasa sasaran. Model silabus didasarkan pada berbagai situasi (diajarkan secara induktif yaitu siswa diperkenalkan dengan contoh contoh dan kemudian baru memahami kaidah kaidahnya. Jenis kegiatan pembelajaran komunikasi lisan sebagai pondasi utama. Peranan guru sebagai fasilitator.

3

Metode audiolingual (at thariqah al samiyah al syafawiyah )

Tujuan umum siswa mampu menggunakan bahasa sasaran secara komunikatif. Model silabus structural. Jenis  kegiatan pembelajaran kosakata diperkenalkan melalui pengulangan . peranan guru sebagai pemimpin orkes. Peranan murid sebagai peniru model. Peranan bahan ajar membantu guru mengembangkan penguasaan siswa terhadap bahasa asing.

4

Metode komunikatif ( al madkhal al ittishaliy)

Tujuan umum memproduk ujaran yang sesuai dengan konteks. Model silabus  structural fungsional dan nosional. Jenis kegiatan pembelajaran  meliputi kegiatan yang mendorong siswa berpartisipasi dalam proses komunikasi seperti saling memberikan informasi dan saling menjelaskan maksud. Peranan guru(, analis kebutuhan. Fasilitator, konselor, manager). Peranan bahan ajar materi pelajaran berbasis text , berbasis tugas dan realita.

5

Metode respon fisik total (thariqah al istijabah al jasmaniayah al kamilah

Tujuan umum menghasilkan siswa yang mampu berkomunikasi dan dapat  dimengerti si penutur asli. Model silabus berbasis kalimat. Peranan guru sebagai pengarah, peranan siswa sebagai pendengar dan pelaksana gerakan.

6

Metode guru diam (at thariqah as syamitah)

Tujuan umum melengkapi pelajar dengan kemampuan berbahasa target dan memperkuat kepekaan menyimak. Model silabus berdasarkan struktur bahasa, menggunakan alat peraga (balok). Jenis kegiatan pembelajaran para siswa diberikan pola pola kalimat bahasa target. Peranan guru sebagai teknisi atau insinyur . peranan siswa “guru bekerja sama dengan siswa sedangkan siswa bekerja dengan bahasa”

7

Metode belajar bahasa berkelompok (thariqah taalum al lughoh min khilal al mujtama)

Tujuan umum menguasai bahasa sasaran mendekati penutur asli. Model silabus  berupa topic da ri siswa. Jenis kegiatan pembelajaran (tahap embrio, tahap penonjolan diri,tahap kelahiran, tahap pembalikan, tahap kemerdekaan). peranan guru sebagai konselor dan siswa sebagai client.

8

Metode alamiah (at thariqah al insyaniah at tabaiyah)

Tujuan umum agar si terdidik segera tuntas berbahasa dalam bahasa target. Model silabus disajikan secara reseftif kemudian produktif. Jenis kegiatan pembelajaran guru lebih banyak bercerita tentang benda benda yang ada di dalam kelas atau dengan menggunakan alat peraga.peranan guru sebagai fasilitator, generator, pen cipta suasana kelas dan penanggung jawab. Peranan siswa sebagai rekan bagi guru (preproduction, early production, speech emergent). Peranan bahan ajar tidak aada buku teks yang dianjurkan dalam metode ini

9.

Metode seggestopedia (ath thariqah al ilhaiyah)

Tujuan umum mengembangkan kecakapan atau keterampilan berbicara yang lebih baik dan lancer secara cepat.

 

No

Metode

Prosedur dan teknik

1

Metode  tata bahasa tarjamah

Guru menyuruh siswa untuk membaca buku bacaan yang dipilih, apabila ada kesalahan guru langsung memperbaiki kesalahan. Kemudian siswa diminta untuk menerjemah kedalam bahasa ibu, dan guru akan memberikan bantuan bila ada kesulitan,

2

Metode langsung ( at thariqah al mubasyarah)

Jangan menerjemah tetapi demontrasikan

begitu masuk kelas guru langssung berbicara dalam bahasa sasaran. Menyapa siswa dan siswa menjawab dalam bahasa sasaran , kemudianguru memulai materi dengan lisandengan cara menunjuk benda atau memperagakan benda atau dengan mimic wajah, pelajar mengikuti dan menirukan sampai pellafalan nya menjadi benar dan maknanya dipahami.

3

Metode audiolingual (at thariqah al samiyah al syafawiyah )

Siswa meendengar model dialog

Dialog disesuaikan dengan minat siswa

Latihan bersama-sama kemudian individual

Mengacu pada buku text dan berlangsung di lab.

4

Metode komunikatif ( al madkhal al ittishaliy)

Diawali dengan penyajian suatu dialog

Praktek lisan

Penelaahan

Setelah latihan lisan,siswa menyalin dialog

Guru member tugas rumah

Evalusi pembelajaran.

5

Metode respon fisik total (thariqah al istijabah al jasmaniayah al kamilah

Guru mengucapkan dan  memperagakan  perintah untuk para siswa

Guru memperkenalkan kosakata dengan memperagakan perintah dari kaset

Latihan menyimak

Peroduksi dan hasil

Membaca dan menulis

6

Metode guru diam (at thariqah as syamitah)

Guru menyajikan suatu kata baru

Sesudah pelajar mampu mengucapkan bunyi, kata digunakan dalam  kominikasi sehari-hari

Menggunakan balok yang berwarna warni.

7

Metode belajar bahasa berkelompok (thariqah taalum al lughoh min khilal al mujtama)

Fase investasi . siswa berkata dalam bahasa ibu kemudian menggunakan bahasa sasaran, siswa mengucapkan dengan lancer , selanjutnya siswa telah mampu menggunakan kata dalam bahasa sasaran. Fase refleksi  siswa mengungkapkan pengalaman dengan kata –kata sendiri , kemudian memutar kembali  pengugungkapan dan doperdengarkan kalimat per kalimat.

8

Metode alamiah (at thariqah al insyaniah at tabaiyah)

Afektif humanistic, memecahkan persoalan, permainan, orientasi pada isi persoalan.

Tiga hal yang mendominasi dalam kelas (1) kegiatan pemahaman/praproduksi(2)produksi ujaran awal (3) munculnya ujaran.

9.

Metode seggestopedia (ath thariqah al ilhaiyah)

Bagian tinjauan lisan, penyajian bahan baru dan didiskusikan, semedi,

No

Metode

Keunggulan

1.

Metode  tata bahasa tarjamah

Siswa menguasai banyak kaidah tata bahasa , siswa menguasai isi bacaan dan terjemahannya

Memperkuat kemampuasn siswa dalam menghapal, bisa dilaksanakan dalam kelas besar

Cocok bagi semua tingkat pelajar, mudah dalam mengevaluasi

Metode ini tidak memerlukan media untuk menjelaskan kosakata.

2.

Metode langsung ( at thariqah al mubasyarah)

Memungkin siswa terampil menyimak, siswa menguasai pelafalan dengan baik,siswa mempunyai keberanian dalam berbicara, siswa menguasai tata bahasa secara fungsional/mengontrol kebenaran ujarannya.

3.

Metode audiolingual (at thariqah al samiyah al syafawiyah )

Siswa mempunyai pelafalan yang bagus, dapat menggunakan komunikasi dengan baik, suasana kelas hidup karena pelajar aktif, siwa mampu berbicara bahasa sasaran sejak dini, daya ingat siswa terlatih.

4.

Metode komunikatif ( al madkhal al ittishaliy)

Menekankan pada komunikasi, siswa cepat dan lancer dalam menggunakan bahasa sasaran, kegiatan tidak terpusat kepada guru, siswa lebih termotivasi belajar bahasa asing, siswa merasa nyaman.

5.

Metode respon fisik total (thariqah al istijabah al jasmaniayah al kamilah

Pembelajaran terasa menyenangkan, siswa merasa bebas dari stress, siswa memiliki ingatan jangka panjang, penundaan berbicara melahirkan kepercayaan diri siswa, mudah digabungkan dengan metode lainnya.

6.

Metode guru diam (at thariqah as syamitah)

Tugas-tugas dan aktivitas mendorong siswa untuk tidak pasif, me ndorong siswa untuk menyimak kata yang diucapkan guru. Apabila terdapat kesalahan maka siswa didorong membuat analogi sendiri dengan kesimpulan.

7.

Metode belajar bahasa berkelompok (thariqah taalum al lughoh min khilal al mujtama)

Pembelajaran memperhatikan aktivitas mandiri siswa/berorientasi pada siswa. Menghasilkan suasana yang sehat/ mengurangi rasa rendah diri pada siswa. Para siswa dari awal permulaan, sudah belajar berkomunikasi dengan menggunakan “kemampuan kognitif”

8.

Metode alamiah (at thariqah al insyaniah at tabaiyah)

Siswa akan belajar komunikasi dasar interpersonal sejak dini, efektif digunakan pada tingkat dasar, siswa tidak dipaksa untuk mengatakan sesuatu sesuatu kalau mereka belum siap. Suasana santai dalam kelas, siswa tidak mengalami keteganngan selama masa pembelajaran.

9.

Metode seggestopedia (ath thariqah al ilhaiyah)

Menumbuhkan kesenangan pada diri siswadengan tokoh kha yalan yang diperankan siswa. Kesenambungan dan panjangnya dialog yang digunakan efektif membekali siswa dengan dunia khayalannya dimana siswa dapat beri mprovisasi di dalamnya. Jumlah pelajar maximum12 menghasilkan suasana santai. Para siswa bisa memupuk perasaan kerja sama yang kuat antara mereka sendiri karena saling tolong menolong dalam menyerap semua pelajaran yang diterima.

No

Metode

Kelemahan

1

Metode  tata bahasa tarjamah

Lebih banyak mengajarkan tentang bahasa dibandingkan keterampilan bahasa. Menekannkan hanya pada keterampilan membaca. Kosakata mungkin sudah tidak dipakai lagi/dalam arti berbeda dalam bahasa modern. Tidak ada tempat diotak untuk berkrerasi dan ber ekpresi. Tidak cocok untuk siswa yang belum bisa membaca.

2

Metode langsung ( at thariqah al mubasyarah)

Kemampuan siswa dalam  membaca lemah, mununtut guru yang ideal dari segi keterampilan bahasa. Tidak bisa dilaksanakan dalam kelas yang besar(maksimum 20 siswa) . terlalu membesar besarkan persamaan antara pemerolehan bahasa  pertama dan kedua.

3

Metode audiolingual (at thariqah al samiyah al syafawiyah )

Pengulangan akan menyebabkan siswa bosan, kurang memperhatikan ujaran, guru harus lebih aktif dibandingkan pelajar,supaya member respon, pelajar takut menggunakan bahasa, pelajar mengalami kesulitan dalam penerapan yang sebenarnya.

4

Metode komunikatif ( al madkhal al ittishaliy)

Sulit dalam memberikan penilaian. Sulit dalam penydiaan autentich materil. Guru kurang member feedback terhadap kesalahan siswa.

5

Metode respon fisik total (thariqah al istijabah al jasmaniayah al kamilah

Tidak semua bahasa dapat diajarkan dengan menggunakan kata perintah. Beberapa siswa mungkin enggan untuk memperagakan suatu gerakan. Terbatas untuk pemula. Menuntut guru untuk mampu berbicara bahasa target dengan baik dan bermakna.

6

Metode guru diam (at thariqah as syamitah)

Hamper mirip dengan metode audiolingual(praktek pengulangan).  Guru harus lebih menguasai materi. Hanya cocok bagi siswa bahasa asing tingkat pemula.

7

Metode belajar bahasa berkelompok (thariqah taalum al lughoh min khilal al mujtama)

Siswa sudah diharuskan untuk membuat kalimat diawal pengajaran, silabus sulit untuk dibukukan.peran guru sebagai penyusun akan menyebabkan siswa frustasi.

8

Metode alamiah (at thariqah al insyaniah at tabaiyah)

Kurangnya konsentrasi dalam peningkatan kecakapan siswa. Siswa tidak diberikan umpan balik korektif  yang mereka butuhkan untuk meningkatkan kecakapan mereka.

9.

Metode seggestopedia (ath thariqah al ilhaiyah)

Hanya dapat digunakan bagi kelas berkelompok kecil, prasarana dan sarananya mahal, timbulnya kelelahan dalam diri siswa karena tidak beristirahat dengan tenang efek rekaman.

RPP bahasa Arab

Contoh RPP yang  belum bener,, penulis cuma ingin RPP-nya ada di wordpress jadi jangan di IKuti , thanks

 

Satuan Pendidikan      : MTs N

Kelas / Semester          : IX/1

Mata Pelajaran            : Bahasa Arab

Standar Kompetensi   :1. Mendengarkan/ISTIMA’(Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan dalam bentuk

Paparan atau dialog sederhana tentang upacara –upacara keagamaan (  الدينية المنا سبات)

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR

MATERI

PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN

ALOKASI WAKTU

SUMBER BELAJAR

1.1 mengidentifikasikan  bunyi huruf hijaiyah dan ujaran (kata,frase, atau kalimah) tentang:   

الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur

الجملة الفعلية, الفعل المضى, لم, لا النية

 

1.2 menemukan informasi dari wacana lisan sederhana tentang:

الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur

الجملة الفعلية, الفعل المضى, لم, لا النية

 

1.3 merespon gagasan yang terdapat pada wacana lisan atau dialog sederhana tentang:

الدينية المنا سبات  dengan menggunakan struktur

الجملة الفعلية, الفعل المضى, لم, لا النية

 

 

Melengkapi kalimat rumpang dengan kata yang tepat sesuai dengan isi wacana lisan tentang upacara keagamaan.

 

Mengidentifikasikan jumlah fi’iliyah, fiil mahdi, dan la nahyi.

 

Menentukan fungsi-fungsi penggunaan jumlah fi’iliyah, fiil mahdi, dan la nahyi, dalam kalimat.

 

Memberi pendapat langsung dari wacana lisan yang diperdengarkan

 

Melakukan percakapan pendek tentang wacana lisan yang diperdengarkan

 

 

Menjawab pertanyaan wacana lisan tentang upacara keagamaan. Mendengarkan wacana lisan

 

Melengkapi kalimat rumpang dengan kata-kata yang tepat.

 

Menunjukkan kalimat yang sesuai dengan wacana lisan.

 

Menunjukkan fungsi penggunaan jumlah fi’iliyah, fiil mahdi, dan la nahyi, dari wacana lisan

 

Menyebutkan kosakata baru tentang acara keagamaan dari wacana lisan

 

Menentukan shohih dan khoto’ nya dari wacana lisan tersebut dengan menggunakan struktur jumlah fi’iliyah, fiil mahdi, dan la nahyi, dalam kalimat

Tes lisan

Tes tulis

1x 40 Teks wacana tentang perayaaan keagamaan

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Standar Kompetensi           :  BERBICARA/KALAM (mengungkapkan pikiran perasaan dan pengalaman secara lisan dalam bentuk paparan  atau dialog sederhana tentang upacara-upacara keagamaan )

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR

MATERI PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN

ALOKASI WAKTU

SUMBER BELAJAR

2.1  melakukan dialog sederhana tentang الدينية المنا سبات  dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi

 

2.2  menyampaikan informasi secara lisan dalam kalimat sederhana tentang : الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi

 

Melengkapi kalimat rumpang dengan kata yang tepat sesuai dengan isi wacana tentang upacara keagamaan.

 

Mengidentifikasikan jumlah fi’iliyah, fiil mahdi, dan la nahyi.

 

 

Memberi pendapat langsung dari wacana

 

 

 

Mempraktekkan wacana dan menjawab pertanyaan dari wacana tersebut. Memperaktekkan kegiatan dari wacana tersebut dalam bentuk percakapan.

 

Mengungkapkan kembali wacana tersebut dengan menggunakan kata-kata sendiri

 

Menjawab pertanyaan dari wacana tersebut

 

Menemukan kalimat-kalimat yang rumpang daan menggantinya dengan yang benar.

 

 

Tes lisan seperti bertanya jawab

 

Melihat kefasehan siswa dalam mengucapkan kalimat bahasa arab, dari segi makhrijul huruf.

1x 45 Teks wacana tentang upacara keagamaan

 

 

3. Standar Kompetensi : MEMBACA/QIRA’AH (memahami wacana tertulis dalam bentuk paparan atau dialog sederhana tentang upacara keagamaan

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR

MATERI PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN

ALOKASI WAKTU

SUMBER BELAJAR

3.1  melafalkan huruf hijaiyah kata, frase, kalimat dan wacana tertulis dengan baik dan benar tentang : الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi

 

3.2  mengidentifikasikan kata, ftase, dan kalimat wacana tertulis sederhana tentang :  الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi

 

3.3  menemukan makna, gagasan, atau pikiran dari wacana tertulis sederhana tentang: : الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi

Menjawab pernyataan sesuai dengan kandungan bahan bacaan

 

Memilih shohih dan khoto sesuai dengan kandungan wacana upacara keagamaan

 

Menjodohkan kata-kata yang sesuai dengan bacaan (antonym-sinonim) dari wacana upacara keagamaan

 

Menyusun kalimat sesuai urutan peristiwa dalam wacana upacara keagamaan

 

Membaca potongan kalimat tanpa harokat dengan benar

 

Membaca wacana tentang upacara keagamaan dengan makhraj dan intonasi yang benar.

 

Membuat kesimpulan dari bacaan

Membaca teks wacana tentang upacara keagamaan Membaca potongan kalimat tanpa harokat dengan benar

 

Membaca teks wacana tentang upacara –upacara keagaamaan

 

Menjawab pertanyaan dari wacana upacara-upacara keagamaan

 

Menentukan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi dalam bacaan

 

 

Tes lisan

Tes tulis

  Teks wacana tentang upaca-upacara keagamaan

 

4. Standar Kompeten : MENULIS/KITABAH (mengungkapkan pikiran,perasaan, pengalaman dan informasi, melalui kegiatan menulis tentang upacara-upacara keagaaman

 

KOMPETENSI DASAR

INDIKATOR

MATERI PEMBELAJARAN

KEGIATAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN

ALOKASI WAKTU

SUMBER BELAJAR

4.1 menulis kata,frase, kalimat sderhana tentang: الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi

 

4.2 mengungkapkan informasi dan gagasan secara tertulis dalam kalimat sederhana tentang: الدينية المنا سبات dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahyi

 

Menyalin dan menulis kembali wacana upacara-upacara keagamaan dengan baik dan rapi

 

Menyusun kalimat dengan menggunakan struktur kalimat jumlah filiyah, fiil madhi,lam, la nahy

 

Menyusun beberapa kalimat menjadi kalimat sederhana

 

Menulis paragraph sederhana tentang upacara-upacara keagaamaan yang pernah dialami

 

Membuat kalimat sempurna dari kata-kata sulit yang terdapat dalam wacana

 

Memberi harakat yang sesuai dengan kalimat

 

 

Menulis paragraph sederhana dengan menggunakan struktur jumlah fi’liyah, fiil madi, lam, dan la nahy Menulis dan menyalin huruf dan kata arab dari wacana dengan rapi dan benar

 

 

Menulis wacana tentang upacara-upacara keagaamaan dengan menggunakan struktur jumlah fi’liyah, fiil madi, lam, dan la nahy

Menjawab soal dari wacana

 

Menterjemahkan isi wacana

 

Menentukan harakat dari wacana

Tes tulis

Porto folio

1×40

Buku teks

Kamus

Table fiil mahdi

 

 

NAhwu dan Balaghoh

  1. Pengertian penelitian Nahwu dan Balagoh

Penelitian Nahwu dan Balagoh adalah suatu pengkajian dalam mempelajari hal-hal yang terdapat dalam penelitian. Terutama dalam bidang Nahwu dan balagoh. Atau yang disebut juga dengan sintkaksis dan stilistik arab.

Nahwu (sintaksis arab ) yang secara lughawi berarti contoh, merupakan kaidah mengenai penyusunan kalimat dan penjelasan bunyi akhir(I’rab)mengenai kata yang berada dalam struktur kalimat serta hubungan satu kalimat dengan lainnya, sehingga ungkapnnya tepat dan bermakna. Ilmu nahwu mempelajari hubungan kata-kata dalam kalimat,termasuk posisi kata dalam struktur kalimat.

Balaghoh secara etimologi (bahasa) adalah samapai atau mencapai. Balagoh ialah menyampaikan makna yang agung secara jelas dengan menggunakan kata-kata yang benar dan fasih, yang memiliki kesan dalam hati dan cukup menarik, serta sesuai setiap kalimatnya kepada kondisi atau situasi sekaligus orang-orang yang di ajak bicara.

 Korelasi ilmu nahwu dan balaghoh

Ilmu Balaghah khususnya dalam kajian ilmu Ma’ani, objek kajian antara ilmu Ma’ani dan ilmu Nahwu hampir sama. Kaidah-kaidah yang berlaku dan digunakan dalam ilmu Nahwu berlaku dan digunakan pula dalam  ilmu Ma’ani.

Perbedaan keduanya terletak pada wilayahnya. Ilmu Nahwu lebih bersifat mufrod (berdiri sendiri), tanpa terpengaruh oleh faktor lain seperti keadaan kalimat-kalimat di sekitarnya. Sedangkan ilmu Ma’ani lebih bersifat tarkibi (tergantung kepada faktor lain). Hasan Tamam menjelaskan, bahwa tugas ahli nahwu  hanya sebatas untuk mengotak-atik kalimah dalam suatu jumlah, tidak sampai melangkah pada jumlah yang lain.

Kajian dalam ilmu Ma’ani adalah keadaan kalimat dan bagian-bagiannya. Dalam kaca mata ilmu Nahwu dan dari sisi tarkib kalimat (Jumlah) terdiri dari dua macam, yaitu jumlah ismiyah dan fi’liyah. Selain melihat dari susunan unsur-unsur yang membentuk jumlah ilmu Nahwu juga melihat isi kalimat dari sisi itsbat (positif) dan manfi (Negatif) nya saja.

Ahli Nahwu menekankan pentingnya kegramatisan ungkapan, sedangkan ahli Balaghah menelaah pengaruh makna terhadap ungkapan. Sebagian ahli menilai kajian Balaghah dan produknya sebagai puncak kajian ahli bahasa. Artinya ahli Balaghahlah yang memberi makna terhadap struktur yang dihasilkan ahli Nahwu.

Ilmu Balaghah ini mempunyai tiga bidang kajian, yaitu ilmu bayan, ilmu ma’ani dan ilmu Badi’. Di samping itu, Balaghah adalah ilmu untuk mempelajari kefasihan berbicara.

Adapun yang kita pelajari sekarang adalah ilmu Ma’ani , yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana kita mengungkapkan suatu ide atau perasaan ke dalam sebuah kalimat yang sesuai dengan tuntutan keadaan. Bidang itu meliputi: kalam dan jenis-jenisnya, tujuan kalam, washl dan fashl, dzikr dan hadzf, ijaz,dll.

Para ulama Balaghah mendefinisikan bahwa ilmu Ma’ani bertujuan membantu agar seseorang dapat berbicara sesuai dengan muqtadhal hal. Agar dapat berbicara sesuai dengan muqtadhal hal maka seseorang itu harus mengetahui bentuk-bentuk kalimat dalam bahasa Arab.

Dilihat dari kedudkan ilmu balaghah  pada bagan di atas, ilmu Balaghah berada pada qowaid yang sama denga ilmu Nahwu dan Sharaf.  Jadi ilmu Balaghah, Nahwu dan Sharaf itu sama-sama membahas tentang kaidah-kaidah yang ada dalam bahasa Arab.

Ilmu Balaghah khususnya dalam kajian ilmu Ma’ani, objek kajian antara ilmu Ma’ani dan ilmu Nahwu hampir sama. Kaidah-kaidah yang berlaku dan digunakan dalam ilmu Nahwu berlaku dan digunakan pula dalam  ilmu Ma’ani.

Perbedaan keduanya terletak pada wilayahnya. Ilmu Nahwu lebih bersifat mufrod (berdiri sendiri), tanpa terpengaruh oleh faktor lain seperti keadaan kalimat-kalimat di sekitarnya. Sedangkan ilmu Ma’ani lebih bersifat tarkibi (tergantung kepada faktor lain). Hasan Tamam menjelaskan, bahwa tugas ahli nahwu  hanya sebatas untuk mengotak-atik kalimah dalam suatu jumlah, tidak sampai melangkah pada jumlah yang lain.

Kajian dalam ilmu Ma’ani adalah keadaan kalimat dan bagian-bagiannya. Dalam kaca mata ilmu Nahwu dan dari sisi tarkib kalimat (Jumlah) terdiri dari dua macam, yaitu jumlah ismiyah dan fi’liyah. Selain melihat dari susunan unsur-unsur yang membentuk jumlah ilmu Nahwu juga melihat isi kalimat dari sisi itsbat (positif) dan manfi (Negatif) nya saja.

Ahli Nahwu menekankan pentingnya kegramatisan ungkapan, sedangkan ahli Balaghah menelaah pengaruh makna terhadap ungkapan. Sebagian ahli menilai kajian Balaghah dan produknya sebagai puncak kajian ahli bahasa. Artinya ahli Balaghahlah yang memberi makna terhadap struktur yang dihasilkan ahli Nahwu.

 

  1. Ruang Lingkup Penelitian Nahwu dan Balaghoh

Di bawah ini akan dipaparkan ruang lingkup nahwu dan balaghoh yang digunakan untuk penelitian.

  1. Ruang lingkup nahwu

Nahwu merupakan pelajarn  yang paling penting di program jurusan pendidikan bahasa arab karena nahwu berpengaruh langsung dalam mata kuliah yang lain seperti insya, tarjamah, takallum dan mutholaah. Jadi jika penguasaan Nahwu baik maka dapat dipastikan  mata kuliah yang lain juga baik.

Dalam bahasa Arab secara garis besar, jenis kata dikelompokkan menjadi :
A. Kata Isim :Dalam bahasa Indonesia disebut kata benda, yaitu kata yang menunjukkan benda, namanya, atau sifatnya. Dari segi lafal, kata isim ditandai dengan dimana sebuah kata dapat diawali dengan ???? atau diakhiri dengan tanwin. Termasuk kategori kata isim adalah kata ganti benda, kata ganti penunjuk, dan penghubungnya, serta isim mashdar (kata kerja yang dibendakan)(Hidayat dkk., 1994)

Kata isim dari segi jenisnya dibedakan menjadi 2, yaitu :
1 Mu’annats adalah isim yang menunjukkan perempuan atau nama perempuan dan benda, nama atau sifatnya diakhiri dengan ta’ marbuthoh ( ? ).
2 Mudhakar adalah isim yang menunjukkan jenis laki-laki. Dari segi jumlah benda, maka kata isim dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

  1. Isim Mufrod : Isim mufrod merupakan isim yang menunjukkan jumlah tunggal baik dari jenis Mu’annats maupun mudzakar.
  2. Isim Mutsana :Isim mu’annats meupakan isim yang menunjukkan jumlah dua baik dari jenis Mu’annats maupun mudzakar.
  3. Isim Jama’ : Isim yang menunjukkan jumlah lebih dari 2 baik dari jenis Mu’annats maupun mudzakar

B Kata Fi’il : Dalam bahasa Indonesia disebut kata kerja, yaitu kata yang menunjukkan perbuatan atau pekerjaan yang mengandung waktu tertentu. Fi’il dibagi menjadi 3 macam, yaitu

  1. Fi’il Madhi :Yaitu fi’il yang menunjukkan terjadinya pekerjaan di waktu lampau.
  2. b. Fi’il Mudhari’ Yaitu fi’il yang menunjukkan terjadinya pekerjaan sekarang (sedang) dan akan.
  3. Fi’il Amar Yaitu fi’il yang menunjukkan pekerjaan yang akan datang. Fi’il amar adalah kata kerja yang menunjukkan perintah.

C. Kata Huruf : Kata huruf adalah kata selain dari isim dan fi’il, yaitu kata yang tidak memiliki pengertian tertentu, kecuali setelah dihubungkan dengan isim atau fi’il.
Dari 3 jenis kata (kalimah dalam bahasa Arabnya) tersebut, 2 diantaranya masih terdiferensial menjadi beberapa turunan kata, yaitu Kata Isim dan Kata Fi’il. Masing-masing turunan dibentuk berdasarkan kejadian atau kondisi yang melatar belakangi dipergunakannya kata tersebut.

C tujuan penelitian ilmu nahwu

Seperti telah dikemukakan di atas bahwa penelitian ini berupaya mengkaji “Ilmu Nahwu” dengan tujuan untuk mengetahui dan merumuskan prinsip-prinsip umum yang berlaku pada ilmu tersebut dan melacak berbagai sumber atau asal usulnya. Karenanya, secara ringkas penelitian ini diharapkan dapat memotret dengan jelas tata bangun (body of knowledge) ilmu Nahwu. Sehingga dengannya memberi celah kemungkinan untuk melakukan rekonstruksi disiplin tersebut. Sedangkan dari segi praktis, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi pertimbangan untuk meninjau kembali sistem pengajaran dan pembelajaran “nahwu” yang hingga saat ini masih dianggap sebagai momok bagi sementara para peminat bahasa Arab, khususnya dilingkungan kampus. Penelitian ini juga diharapkan memberi manfaat bagi penelitian-penelitian lebih lanjut dan lebih luas terhadap ilmu ini, tentu dalam kerangka memperkaya khazanah intelektual dibidang disiplin tersebut.

http://ilmunahwu.awardspace.com/

file:///G:/metlit/ilmu-balaghah-dan-ilmu-nahwu.html

Al-Mufradat Wal iBarat ( فساد ) kejelekan

فساد – سوء – شر – معصية – اثم- ذنب  – ردى                                  kejelekan /kenistaan

فساد – فتق – وصم – خلل – خراب – إفساد                       kehancuran, kerusakan dan kebinasaan

Menurut al-Raghib , فسادmengandung arti “terjadinya ke tidakseimbangan atau ketidakharmonisan” Timbulnya fasad di muka bumi adalah disebabkan oleh ulah tangan manusia

Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rum Ayat 41

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ﴿٤١﴾

Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Fasad yang mencakup semua bentuk kerusakan berupa hilangnya tatanan yang baik di dunia ini, baik yang dikaitkan dengan kehendak manusia maupun yang tidak. Misalnya gempa, kemarau, banjir, wabah penyakit, perang, perampokan dan segala bentuk yang mengganggu ketentraman dalam kehidupan manusia.

Segala kejadian seperti itu termasuk peristiwa-peristiwa alam dianggap sebagai akibat ulah manusia. Baik langsung maupun tidak langsung manusialah yang jadi penyebab terjadinya kerusakan-kerusakan itu. Paling tidak kejadian-kejadian itu sebagai pertanda kemurkaan Allah terhadap manusia yang larut dalam kemungkaran.

Sebagaimana penegasan al-Qur’an,

 

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ ﴿٧١﴾

”Andaikata kebenaran (al-haq) itu menuruti hawa nafsu mereka pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu ” (QS Al-Mu’minin : 71)

 

ata-kata fasad di dalam al-Qur’an umumnya dinisbatkan khusus kepada tindak laku orang-orang kafir, disamping mengandung makna umum.

 

“Dan apabila ia berpaling (dari engkau) ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak al-harts dan al-nasl dan Allah tidak menyukai kerusakan (al-fasad)”

 (QS 2 : 205)

 

المعرب (النحو يه و الصرفية )

المعرب = ما تغير اخره بسبب العوامل الداخلة عليه إما لفظا كزيد و عمر إما تقدير نحو موس و الفتى

 تابعين (علوم الحديث) = من لقى صحابتا مسلما وماتعلىاالاسلام

Secara bahasa kata Tabi’in merupakan bentuk jamak (Plural) dari Tabi’i atau Tabi’. Tabi’ merupakan Ism Fa’il dari kata kerja Tabi’a yang berarti pengikut. Bila dikatakan, Tabi’ahu fulan, maknanya Masya Khalfahu (Si fulan berjalan di belakangnya).

Secara istilah adalah orang yang bertemu dengan shahabat dalam keadaan Muslim dan meninggal dunia dalam Islam pula. Ada yang mengatakan, Tabi’i adalah orang yang menemani shahabat.

القران (علوم القران)

Menurut bahasa, “Qur’an” berarti “bacaan”, pengertian seperti ini dikemukakan dalam Al-Qur’an sendiri yakni dalam surat Al-Qiyamah, ayat 17-18:

  “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan kami. (Karena itu), jika kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti bacaannya”

Al-Qur’an adalah kalamullah, firman Allah ta’ala. Ia bukanlah kata-kata manusia. Bukan pula kata-kata jin, syaithan atau malaikat. Ia sama sekali bukan berasal dari pikiran makhluk, bukan syair, bukan sihir, bukan pula produk kontemplasi atau hasil pemikiran filsafat manusia. Hal ini ditegaskan oleh Allah ta’ala dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 3-4

 

 

“…dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)…”

ام الكتاب (علوم القران)

Ummul Kitab (induk Al-Kitab/أمّ الكتاب). Surah Al-Fatihah (Arabالفاتح , al-Fātihah, “Pembukaan”) adalah surah pertama dalam al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekah dan terdiri dari 7 ayat. Al-Fatihah merupakan surah yang pertama-tama diturunkan dengan lengkap di antara surah-surah yang ada dalam Al-Qur’an. Surah ini disebut Al-Fatihah (Pembukaan), karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya Al-Quran. Dinamakan  karena dia merupakan induk dari semua isi Al-Quran.

 

Aplikasi Strukturalis dalam pembelajaran Qawaid

BAB I

PENDAHULUAN

Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial, strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa, dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa), dan sebagai “tanda” (sign), dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” (signifier) dan “petanda” (signified). Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary).

Perkembangannya menjadi salah satu pendekatan yang paling populer di bidang akademik berkaitan dengan analisis bahasa, budaya, dan masyarakat.  Aktivitas Ferdinand de Saussure yang menggeluti bidang  linguistik inilah yang dianggap sebagai titik awal dari strukturalisme.[1]

Aliran struktural ini berdasarkan pada yang mereka yakini bahwa bahasa adalah tatanan yang berbentuk dari hubungan-hubungan terikat yang dengannya hubungan keanggotaan, termasuk adanya persamaan dan perbedaan. Bahasa ini dimulai dari tuturan atau perkataan : kalimat, kata, dan berakhir pada ciri khusus bagi satuan bunyi yang terkecil dalam bahasa yang disebut morfem. Misalnya : keras, pelan, kencang. Maknanya kaum struktural memusatkan perhatiannya pada bentuk luar bahasa khususnya lisan. Alasan pendapat mereka maka itulah asal usul bahasa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Definisi Strukturalisme

      Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structure,  bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan. Struktur berasal dari kata Structura (Latin) = bentuk, bangunan (kata benda). System (Latin) = cara (kata kerja). Struktur sendiri adalah bangunan teoretis (abstrak) yang terbentuk dari sejumlah komponen yang berhubungan satu sama lain. Struktur menjadi aspek utama dalam strukturalisme. Dengan kata lain, strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai bangun teoritis (abstrak) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain relasi sintagmatis dan paradigmatis.

Menurut Yoseph (1997:38) menjelaskan bahwa teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks. Teori ini berdasarkan pola pemikiran secara behavioristik.[2] Paham behavioristik beranggapan bahwa jiwa seseorang dan hakikat sesuatu hanya bisa diditeksi lewat tingkah laku dan perwujudan lahiriahnya yang tampak. Sejalan dengan itu, aliran struktural mengamati bahasa dan hakikatnya dalam perwujudannya yang konkret sebagai bentuk ujaran.

B.     Sejarah Lahirnya Strukturalisme

Strukturalisme ini lahir pada abad ke 20 atau tepatnya tahun 1916. Tahun tersebut menjadi tahun monumental lahirnya strukturalisme ini, sebab pada tahun itu terbit sebuah buku berjudul “course de linguistique generale” yang dipelopori oleh ferdinand de  saussure di eropa (1857-1913).

Ferdinand de saussure merupakan tokoh yang pertama kali melakukan kajian tentang bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip ilmiah dan terkodifikasi sehingga dapat dianalisis dengan menggunakan metode yang sistematis dan jelas. Selain de saussure, linguis lain memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan aliran ini adalah: leonardo blom field, edward saphire, carles hokait dan carles Fries.[3]

Sebelum teori ini muncul, dunia linguistik belum beranjak dari teori tradisional yang selalu menerapkan pola-pola tata bahasa Yunani dan latin dalam mendeskripsikan suatu bahasa, maka linguistik strukturalis tidak demikian. Linguistik strukturalisme berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Kehadiran karya de Saussure ini benar-benar dirasakan sebagai suatu revolusi.[4]

Tema utama dalam aliran ini adalah sebuah respon yang terjadi dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pemikiran skinner (seorang linguis behavioris) yang menegaskan bahwa pikiran atau makna semata-mata hanyalah sebuah khayalan dan orang yang berbicara (mutakallim) adalah sebuah perilaku bukan penyebab terjadinya perilaku. Gagasan pokok yang muncul dalam aliran strukturalisme adalah kajian tentang bahasa. Maksudnya, bahasa dapat dibagi menjadi beberapa bagian kecil yang kemudian dapat digabungkan kembali menjadi bagian-bagian tersebut.

De saussure membedakan antara aktivitas otak dan aspek perasaan disamping menjelaskan adanya hubungan antara simbol dengan pemahaman, antara bunyi-bunyi bahasa dengan huruf-huruf yang tertulis. Dia juga menyatakan bahwa soimbol tidak berarti apa-apa kalau tidak memungkinkan pembicara atau pendengar menghubungkan antara simbol dengan maknanya.[5]

C.  Teori Strukturalisme dan Bahasa

Kajian bahasa di Barat memiliki hubungan dengan para linguistik Arab terjadi pada abad ke-19 M. Namun, metode deskriptif struktural mulai ditransfer pada paruh kedua abad ke-20 M, tepatnya ketika Dr. Ibrahim Anis, linguistik Arab pertama, berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas London. Ia berhasi menyusun tiga buku, yaitu al ashwat al arabiyah (fonetik bahasa Arab), fii al lahjat al arabiyah (dialek bahasa arab), dan dilalah al alfadz (semantik). Aliran strukturalisme ini memiliki pandangan tentang hakekat bahasa, antara lain:

  1. Bahasa itu adalah ujaran (lisan);
  2. Kemampuan bahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan;
  3. Setiap bahasa memilki sistemnya sendiri yang berbeda dari bahasa lain. Oleh karena itu, menganalisis suatu bahasa tidak bisa memakai kerangka yang digunakan untuk menganalisis bahasa lainnya;
  4.  Setiap bahasa memiliki sistem yang utuh dan cukup untuk mengekspresikan maksud dari penuturnya. Oleh karena itu, tidak ada suatu bahasa yang unggul atas bahasa lainnya;
  5. Semua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zaman terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain. Oleh karena itu, kaidah-kaidahnya pun bisa mengalami perubahan;
  6. Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lembaga ilmiah, pusat bahasa, atau mazhab-mazhab gramatika.
  7. D.     Aplikasi Strukturalisme Dalam Pembelajaran Qawa’id

Landasan utama aliran strukturalisme terhadap definisi-definisi tata bahasa yaitu hanya mencakup pada makna-makna hakiki (makna dalam) saja , para linguis aliran strukturalis pun berpendapat ada tiga tahapan yang harus dilakukan dalam menganalisa suatu bahasa tahap-tahap tersebut adalah pertama menganalisis bunyi bahasa tersebut. Definisi bunyi dalam konteks ini adalah bunyi huruf konsonan dan vokal serta bunyi-bunyi lain yang meliputi intonasi, tekanan dan akhir (waqaf). Kedua menganalisis huruf-hurufnya yang meliputi kata dasar beserta tanda-tanda harakatnya. Ketiga barulah peneliti menganalisa kaidah-kaidah tata bahasanya.

Menurut aliran ini makna itu tidak perlu dianalisis secara mendalam tetapi makna cukup dianalisis sebatas memperkuat makna bahasa. (kharma:27). Pandangan stukturalis yang demikian melahirkan asumsi dalam pembelajaran bahasa yang menyatakan bahwa bahasa adalah tingkah laku (‘adah/habit), dan tingkah laku dapat dipelajari. Karena itu siswa mempelajari bahasa dengan cara memberikan respon dalam praktik-praktik, latihan, kegiatan berbahasa dan penguatan bagi respon yang benar. Lebih lanjut lagi, salah satu teknik pengajaran bahasa adalah dengan menerapkan stimulus respon dan penguatan.

Berdasarkan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan aliran strukturalisme tersebut, selanjutnya aliran ini juga menetapkan prinsip prinsip pembelajaran bahasa sebagai berikut:

  1. pemerolehan bahasa merupakan pemerolehan kebiasaan yang harus dimantapkan oleh pengulangan, latihan, penuruan, dan hafalan.
  2. segala sesuatu yang diucapkan merupakan aspek bahasa yang paling penting. Oleh karena itu seorang guru harus mengawali kegiatan pembelajarannya dengan memberikan latihan pada siswa mulai dari latihan menyimak, memahami kemudian berbicara.
  3. pebedaan antara bahasa asli siswa dengan bahasa asing yang sedang dipelajarinya perlu perhatian besar dari seorang guru untuk memprioritaskan perbedaan-perbedaan ini sehingga dapat disesuaikan ketika merancang sebuah metode pembelajaran.
  4. Guru terjemah menjelaskan kepada para siswa bahwa kita bisa membedakan konsep-konsep bahasa asing  kedalam bahasa ibu dan sebaliknya, tanpa ada perbedaan mendasar dalam kekuatan ungkapan ataupun pengaruhnya.
  5. Guru senantiasa menekankan bahwa kaidah-kaidah bahasa bukan suatu hal yang mutlak tidak mengalami perubahan, tetapi kaidah bahasa itu akan berkembang seiring dengan perkembangan bahasa itu sendiri.
  6. kaidah-kaidah bahasa hanyalah sebuah deskripsi dari bahasa yang digunakan penuturnya saat menuturkannya.
  7. Guru menekankan gejala-gejala lahiriyah bahasa seperti ucapan yang benar, ejaan yang tepat dan penggunaan ungkapan-ungkapan yang tepat. Guru harus menjelaskan kepada siswa tentang struktur bahasa pada umumnya.
  8. Menurut aliran ini, dalam proses pembelajaran bahasa siswa tidak disuguhkan dengan pertanyaan yang menuntut jawaban yang berkaitan dengan sebab-sebab logis suatu kaidah, karena bahasa itu tidak tunduk pada dasar-dasar logika. Akan tetapi, siswa akan lebih senang jika diberikan pertanyaan dengan menggunakan kata tanya “bagaimana? “ ini berarti bahwa seorang guru hendaklah menjelaskan kepada siswanya mengenai hubungan antara susunan kalimat bahasa dan fungsinya dalam mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan konsep-konsep bicara.
  9. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, hendaklah guru memberikan penjelasan kepada para siswa dengan penjelasan yang bersifat induktif, yakni guru memberikan penjelasannya dengan memberikan contoh-contoh sebanyak mungkin kemudian dilanjutkan dengan memberikan kesimpulan terhadap kaidah-kaidah yang sedang dipelajarinya, setelah itu diadakan kegiatan tanya jawab untuk memantapkan pemahaman siswa.[6]

Dalam pembelajaran bahasa arab khususnya salah satu cabang ilmu bahasa yang berpengaruh besar terhadap pembelajaran bahasa arab adalah pembelajaran qawa’id [7] yaitu Tarakib/Qowaid yang mengkaji tentang tata cara penggunaan struktur bahasa arab (tata bahasa), yang memusatkan perhatian pada kajian nahwu[8] dan Sharaf [9]. Pembelajran qawa’id ini juga mempunyai prinsip-prinsip pembelajaran yang seirama dengan prinsip pembelajaran bahasa yang telah di terapkan oleh strukturalisme. Adapun prinsip-prinsip yang diterapkan dalam pembelajaran qawa’id adalah sebagai berikut ;

  1. Nahwu dan sharaf bukanlah tujuan (ghayah), melainkan perantara atau media (washilah);
  2. Pembelajaran nahwu dan sharaf harus aplikatif dan fungsional, dan memfasilitasi pengembangan empat keterampilan berbahasa; dalam arti mengantarkan peserta didik untuk berbahasa secara benar : mendengar, berbicara, membaca, dan menulis secara benar;
  3. Pembelajaran nahwu dan sharaf harus kontekstual, dalam arti memperhatikan konteks kalimatyang digunakan, bukan semata-mata menekankan I’rab atau tashrif;
  4. Membelajarkan makna kalimat harus lebih didahulukan dari pada fungsi i’rab;
  5. Pembelajaran nahwu sharaf juga harus berlangsung secara gradual, bertahap: dari mudah menuju tahap lebih sulit; dari yang konkret menuju yang lebih abstrak; dari yang ada persamaannya dalam bahasa ibu menuju yang tidak ada persamaannya;
  6. Menghafal istilah dan kaidah nahwu bukan merupakan pioritas utama, melainkan hanya sekedar sarana memahamkan peserta didik akan kedudukan kata dalam kalimat;
  7. Tidak dianjurkan untuk mengembangkan i’rab yang panjang dan tidak fungsional; peserta didik cukup mengetahui: mubtada’ marfu’, fa’il marfu’, tidak perlu diikuti penjelasan tanda rafa’nya itu dhammah zhahirah fi akhirihi, dan sebagainya;
  8. Tidak dianjurkan pula dalam pembelajaran nahwu-sharaf dikembangkan teori amil, ta’lil, i’rab, taqdiri, yang bagi peserta didik mungkin sangat abstrak. Tidak praktis, dan tidak bermanfaat.[10]

Secara singkatnya pembelajaran qawa’id tidak hanya sekedar untuk pengayaan  dan penghafalan kaidah-kaidah saja, namun keempat kemahiran berbahasa seperti kemahiran menyimak (al-maharoh al-istima’)[11], kemahiran berbicara (al-maharoh al-kalam)[12], kemahiran membaca (al-maharoh al-qiro’ah)[13], dan kemahiran menulis (al-maharoh al-kitabah)[14] dapat dikuasai serta diterapkan dengan stuktur bahasa yang benar, hal inilah yang merupakan aplikasi terpenting dalam pembelajaran qawa’id. Jika prinsip-prinsip dalam pembelajaran qawa’id ini selalu diterapkan, maka pembelajaran bahasa secara fungsional dan pelajaran bahasa arab yang lebih bermanfaat akan tercipta.

Dengan adanya respon positif dari pakar pendidikan terhadap aliran strukturalisme yang memberikan pengaruh besar terhadap pembelajaran bahasa,  maka prinsip-prinsip bahasa yang dianut oleh aliran tersebut diterapkan dalam menyusunan dam memilihan aspek-aspek pembelajaran bahasa seperti : metode pengajaran, penyusunan buku-buku ajar dan materi-materi pelajaran yang sesuai serta merancang latihan yang tepat utuk siswa. Pengaruh aliran Strukturalisme ini masih dipakai sampai sekarang di setiap proses pembelajaran bahasa.

E.     Tujuan Pembelajaran Qawa’id

Agar prinsip pembelajaran bahasa dalam aliran strukturalisme, dan dalam pembelajaran dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran qawa’id maka, pembelajaran qawa’id pun tidak boleh terlepas dari tujuan-tujuan utama yang merupakan hal terpenting yang menjadi acuan untuk kebehasilan suatu pembelajaran, adapun tujuan-tujuan dalam pembelajaran qawa’id adalah sebagai berikut :

  1. Membekali peserta didik dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang memungkinkannya dapat menjaga bahasanya dari kesalahan;
  2. Menumbuh kembangkan pendidikan intelektual  dan membawa mereka berpikir logis dan dapat membedakan antara struktur (tarakib), ungkapan-ungkapan (ibarat), kata dan kalimat;
  3. Membiasakan peserta didik cermat dalam pengamatan, perbandingan, analogi, dan penyimpulan (kaidah) dan mengembangkan rasa bahasa dan sastra (al-dzauq al-adabi) karena kajian nahwu didasarkan atas analisis lafazh. Ungkapan, uslub (gaya bahasa), dan pembedaan antara kalimat yang salah dan yang benar.
  4. Melatih peserta didik agar mampu menirukan dan mencontoh kalimat, uslub (gaya bahasa), ungkapan, dan performa kebahasaan secara benar, serta mampu menilai peforma (lisan maupun tulisan) yang menurut kaidah yang baik dan benar.
  5. Mengembangkan kemampuan peserta dididk dalam memahami apa yang didengar, (isi pembicaraan) dan yang tertulis(isi bacaan);
  6. Membantu peserta didik agar benar dalam membaca, berbicara, dan menulis atau mampu menggunakan bahasa arab lisan dan tulisan secara baik dan benar.[15]

Dapat disimpulkan bahwasannya tujuan pembelajaran qawa’id yaitu agar peserta didik mampu menggunakan dan memahami kaidah-kaidah nahwu dan sharaf secara tepat baik secara lisan maupun tulisan dari pembekalan dan pembiasan yang ada dalam pembelajaran sehingga, dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan berbahasa.

F.  Metode pembelajaran Qawa’id

Metode-metode yang dapat diterapkan dalam pembelajran qawa’id antara lain adalah :

  1. Metode deduktif/Analogi

Inti metdode ini adalah bahwa pembelajaran qawa’id dimulai dari penyajian kaidah nahwu/sharaf terlebih dahulu, lalu diikuti dengan contoh-contoh yang dapat memperjelas kaidah yang telah dipelajari.

  1. Metode Induktif (al-yhariqah al-Istiqra’iyyah atau al-Istinbathiyyah)

Metode ini kebalikan dari metode deduktif. Pembelajaran qawa’id dengan metode ini dimulai dengan penyajian contoh-contoh yang relevan, lalu dibaca, didiskusikan, disimpulkan dalam bentuk kaidah.

  1. Metode Teks Terpadu (Thariqah al-nushuush al-mutakaamilah)

Metode ini didasarkan atas teks terpadu atau utuh yang berisi satu topik . Dalam aplikasinya peserta didik diminta membaca teks, lalu mendiskusikan kandungannya, lalu guru menunjukan kalimat-kalimat tertentu dalam teks yang mengandung unsur kaidah yang hendak dibelajarkan, kemudian dari beberapa kalimat itu diambil kesimpulan dalam bentuk kaidah, dan akhirnya peserta didik diminta untuk mengaplikasikan kaidah itu kedalam contoh-contoh kalimat baru.

  1. Metode aktivitas (Thariqah al-Nasyaath)

Untuk tahap pertama guru meminta peserta didik

Metode ini menuntut banyak aktifitas peserta didik untuk mengumpulkan kalimat dan struktur yang mengandung konsep qawa’id yang hendak dipelajari dari berbagai sumber seperti Koran, majalah, atau buku. Lalu guru mengambil kesimpulan terhadap konsep qawa’id itu, lalu menuliskannya, kemudian diaplikasikan dalam contoh-contoh lain.

  1. Metode Problem ( Thariqah al-Musykilat)

Mula-mula guru memberikan persoalan nahwu atau sharaf kepada peserta didik yang solusinya akan ditemukan melalui kaidah baru.

 

PENUTUP

Jadi Aliran strukturalisme ini memiliki pandangan tentang hakekat bahasa,bahwa Bahasa itu adalah ujaran (lisan),Setiap bahasa memilki sistemnya sendiri yang berbeda dari bahasa lain. Setiap bahasa memiliki sistem yang utuh dan cukup untuk mengekspresikan maksud dari penuturnya.Semua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zaman terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain. Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lembaga ilmiah, pusat bahasa, atau mazhab-mazhab gramatika.

Dan dalam pengaplikasiannya strukturaklisme mempunyai prinsip pembelajarannya yang salah satunya  dalam pemerolehan bahasa merupakan pemerolehan kebiasaan yang harus dimantapkan oleh pengulangan, latihan, penuruan, dan hafalan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta: UIN Jakarta Pers, 2008), h.171

 

Prof. Dr.H. Aziz fakhrurazi, M.A. Erta Mahyudin, Lc, s.s Mpd.i Pembelajaran Bahasa Asing : Metode tradisional dan kontempporer:Bania publishing 2010

 

Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, ( Jakarta: YBMQ, 2011), h.86

Prof. Dr.H. Aziz fakhrurazi, M.A. Mukhson Nawawi.Methodology pengajaran bahasa Arab II ( MPBA ) :FITK UIN JAKARTA, 2010

Abdul Chaer, Psikolinguistik kajian Teoritik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003).

 

 

[2] Behavioristik adalah teori yang memandang bahwa perilaku manusia , termasuk perilaku berbahasa, disebabkan oleh adanya stimulus ( rangsangan , aksi,مثير) yang dengan segera akan menimbulkan (reaksi, gerak, balas, استجابات) oleh karenanya maka teori ini dinamakan juga  dengan nama stimulus respons. Abdul Chaer, Psikolinguistik kajian Teoritik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003).

[3] Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Pembelajaran Bahasa Asing, Metode Tradisional dan Kontemporer, (Jakarta: Bania Publishing, 2011), h.21

[4]Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum , (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya. 2002).

[5] Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Pembelajaran Bahasa Asing, Metode Tradisional dan Kontemporer,h.21

[6] Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Pembelajaran Bahasa Asing, Metode Tradisional dan Kontemporer,h.23

[7] Qawa’id merupakan bentuk jama’ dari Qa’idah yang secara lughawi berarti fondasi, dasar pangkalan, basis model, pola dasar formula, aturan,dan prinsip. Dalam konteks ini, yang dimaksud qawa’id adalah sejumlah aturan dasar dan pola bahasa yang mengatur penggunaan suatu bhasa, baik secara lisan maupun tulisan. Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta: UIN Jakarta Pers, 2008), h.171

[8]  Ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah mengenai perubahan keadaan suatu kata, dimana biasanya perubahan ini bisa berupa harokat akhir suatu kata atau bentuk akhir dari suatu kata.

[9] ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari kaedah-kaedah perubahan kata, dimana dengan berubahnya kata menjadikan perubahan pada artinya.

 

[10] Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, h.175-177

[11] kemahiran menyimak (al-maharoh al-istima’) adalah kemampuan atau kecakapan seseorang untuk mengidentifikasi lambing-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap is atau pesan serta memahami makna yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, ( Jakarta: YBMQ, 2011), h.86

[12] kemahiran berbicara (Al-maharoh al-kalam) secara bahasa sepadan dengan istilah Speaking skill dalam bahasa inggris yang dapat diartikan keterampilan berbicara. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan , menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (al-masmu’/audible) yang memanfaatkan sejumlah otot tubuh manusia untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Lihat Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, h.129

[13] kemahiran membaca (al-maharoh al-qiro’ah) adalah suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup atau melibatkan serangkaian-serangkaian keterampilan-keterampilan yang lenih kecil. (Broughton et.al, 1978: 90). Lihat Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, h.105

[14] kemahiran menulis (al-maharoh al-kitabah) adalah kemampuan seseorang dalam mengolah lambing-lambang grafis menjadi kata-kata, lalu kata-kata menjadi kalimat yang efektif  yang sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku, guna menyampaikan dan menginformasikan ide, buah pikiran, pendapat, pengalaman, sikap, perasaan dan emosi kepada orang lain. Lihat Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, h.148

[15] Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, h.174

 

Bersalaman sehabis sholat

Bersalaman sehabis sholat adalah sesuatu yang sangat dianjurkan dalam islam karena bisa dan dapat persaudaraan sesama umat. Hal ini sama sekali tidak merusak sholat karena dilakukan setelah sholat sempurna selesai, bersalaman sesudah shalat juga merupakan fenomena umum shalat berjama’ah di masjid-masjid negeri ini. Ketika imam selesai salam yang diikuti makmum, segera ia menghadap ke makmum dan menjabat tangan mereka. Kemudian para makmum saling bersalaman dengan orang yang di sebelah kanan dan kirinya, dan sering ditambah orang yang di depan dan di belakangnya. Bahkan sering orang yang selesai melaksanakan sunnah juga menyalami (menjabat tangan) kawan yang duduk di sampingnya, walaupun sudah bertemu dan bertegur sapa sebelum shalat.

B. Anjuran Bersalaman

Pada dasarnya bersalaman adalah mubah (boleh), bahkan ada yang mengatakan sunnah karena hal itu dapat memunculkan kecintaan dan kasih sayang serta menguatkan ikatan persaudaraan. 

Keutamaan salaman telah diriwayatkan oleh beberapa hadits. Salah satunya hadits Hudzaifah bin al Yaman, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lainnya lalu dia mengucapkan salam kepadanya serta menjabat tangannya maka akan gugurlah kesalahan-kesalahan keduanya seperti rontoknya dedaunan dari pepohon.” (HR. al-Thabrani di dalam “al Ausath”. Al Mundziriy mengatakan di dalam “at Targhib wa at Tarhib” bahwa aku tidak mengetahui jika di antara para perawinya terdapat seorang pun yang cacat.”)

Dari Salman al Farisi, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya lalu menjabat tangannya maka dosa-dosa keduanya akan gugur sebagaimana rontoknya dedaunan dari pohon kering pada hari bertiupnya angin kencang dan akan diampuni dosa keduanya walaupun dosa keduanya seperti buih di lautan.” (HR. al-Thabrani dengan sanad hasan)

Diriwayatkan juga dari Al Barra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan kecuali akan diampuni dosa keduanya selama belum berpisah.” (Shahih Abu Dawud, 4343).

Ka’ab bin Malik mengatakan: “Aku masuk masjid, tiba-tiba di dalam masjid ada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berlari menyambutku, menjabat tanganku dan memberikan ucapan selamat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari 4156).

Diriwayatkan dari Qatadah, ”Aku berkata kepada Anas bin Malik, ’Apakah bersalaman dilakukan oleh para sahabat Nabishallallahu ‘alaihi wasallam,” Anas menjawab, ”Ya”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Hadits-hadits keutamaan salaman di atas menerangkan bahwa salaman yang dianjurkan adalah dilaksanakan pada saat seseorang bertemu dengan saudaranya. Dan menurut Imam An-Nawawi, berjabat tangan (salaman) telah disepakati sebagai bagian dari sunnah ketika bertemu. Ibn Batthal juga menjelaskan, “Hukum asal jabat tangan adalah satu hal yang baik menurut umumnya ulama.” (Syarh Shahih Al-Bukhari Ibn Batthal, 71/50).

C.Mengkhususkan Salaman Setelah Shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tentunya sangat memahami keutamaan salaman. Namun, tidak didapatkan satu riwayatpun bahwa mereka menghususkan bersalaman setelah selesai melaksanakan shalat, baik wajib maupun sunnah. Berarti bersalaman sesudah shalat tidak dikenal pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan khulafaur rasyidin. Sedangkan hadits-hadits yang menyebutkan bersalaman itu pada saat seseorang bertemu dengan saudaranya.

Syaikh Abdullah Al Jibrin mengatakan, “Banyak orang shalat menjulurkan tangannya  untuk berjabat tangan dengan orang-orang di sekitarnya yang dilakukan setelah selesai salam dari shalat wajib, perbuatan ini adalah bid’ah tidak diriwayatkan dari salaf.”

Al-‘Izz bin Abdissalam berkata, “Berjabat tangan sesudah shalat Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah, kecuali bagi orang yang baru datang dan berkumpul bersama orang-orang yang menyalaminya sebelum shalat. Sesungguhnya bersalaman disyari’atkan ketika baru datang. Setelah shalat, Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam membaca dzikir yang disyariatkan, membaca istighfar tiga kali, lalu bubar.Ini yang terjadi pada zaman Al ‘Izz bin Abdissalam, sedangkan pada zaman kita bersalaman pada setiap shalat yang lima waktu dan setelah shalat-shalat sunnah.

Setidaknya ada dua kesalahan yang sering terjadi pada zaman sekarang ini. Pertama, para jama’ah tidak mengucapkan salam dan bersalaman ketika memasuki masjid dan berjumpa dengan saudaranya. Biasanya mereka langsung masuk dan melaksanakan shalat sunnah, kemudian shalat fardhu. Kedua, mereka berjabat tangan tepat setelah selesai shalat, padahal disyariatkannya pada saat bertemu.

Intinya, bahwa berjabat tangan itu baik, jika dilakukan di saat bertemu. Adapun seusai shalat, tidak ada hadits yang menerangkannya. Padahal suatu ibadah (yang dilazimi) itu harus ada dalil yang memerintahkannya. Jika tidak ada, maka tertolak dan tidak boleh diamalkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang melaksanakan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalnya tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radliyallah ‘anha)

Berdasarkan hadits di atas, Imam Bukhari membuat bab dalam shahihnya, “Apabila seorang yang beramal atau seorang hakim berijtihad, lalu salah karena menyelisihi Rasul tanpa didasari ilmu, maka hukumnya tersebut tertolak”. Hal ini mengindikasikan bahwa pendapat satu atau dua orang ulama tidaklah menjadi wahyu baru yang mengandung kebenaran mutlak. Pendapat mereka bisa benar dan salah, bisa diterima dan ditolak, setelah ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Dan jika salah dan menyelisihi sunnah harus ditinggalkan. Terlebih lagi, bahwa bersalaman sesudah shalat adalah tradisi kaum Syi’ah yang suka merubah-rubah ajaran Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesalahan lain tradisi bersalaman sesudah shalat adalah memotong tasbih atau dzikir saudara muslim. Sedangkan memotong dzikir tidak diperbolehkan kecuali dengan sebab-sebab syar’i. Namun, kenyataannya sering kita saksikan banyak orang yang mengganggu dzikir saudarnya dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Larangan ini bukan semata-mata karena menjabat tangannya, namun juga karena terpotongnya dzikir dan kesibukan mengingat Allah Ta’ala.

Kapan Bersalaman Sesudah Shalat Dibolehkan?

Mengkhususkan salaman sesudah shalat tidak ada sunnahnya. Karenanya tidak boleh dijadikan aktifitas rutin dalam rangkaian shalat sehinga terkesan memiliki keutamaan yang lebih. Namun, jika seseorang tidak sempat bersalaman dengan saudaranya sebelum shalat, maka dibolehkan dilakukan sesudah salam atau sesudah dzikir. Bersalaman seperti ini bukan karena takhsis (menghususkan atau mengistimewakan) waktu sesudah salam untuk salaman. Tapi karena bertemu dengan kawan yang belum sempat berucap salam dan berjabat tangan.

Fatwa Syaikh Ibn Bazz

Syaikh Ibn Baaz rahimahullah mengatakan bahwa dianjurkan untuk bersalaman saat bertemu di masjid atau di shaff. Dan apabila tidak bersalaman sebelum melaksanakan shalat maka mereka bisa bersalaman setelah melaksanakan shalat sebagai bentuk pengimplementasian sunnah yang mulia serta untuk meneguhkan kasih sayang dan menghilangkan permusuhan.

Apabila tidak bersalaman sebelum shalat fardhu maka disyariatkan baginya untuk bersalaman setelahnya atau sesudah mengucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan. (Ibnu Bazz)

Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang bersegera bersalaman setelah melaksanakan shalat fardhu, setelah mengucapkan salam kedua, maka aku tidaklah mengetahui dasarnya dan yang jelas adalah bahwa hal itu adalah makruh dikarenakan tidak adanya dalil tentangnya karena yang disyariatkan bagi seorang yang shalat dalam keadaan seperti itu adalah bersegera mengucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah melaksanakan shalat fardhunya.

Adapun shalat nafilah maka disyariatkan untuk bersalaman setelah salam apabila dia tidak bersalaman sebelum melaksanakan shalat itu dan jika ia telah bersalaman sebelumnya maka hal itu sudah cukup baginya.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baaz, juz XI, hal. 267).

 

.Pendapat para ulama

  1. A.    Ulama yang setuju dengan bersalaman setelah sholat

Imam al-Thahawi.

تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ

Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

Imam Abul Hasan Al Mawardi Asy Syafi’i Rahimahullah

Beliau mengatakan dalam kitabnya Al Hawi Al Kabir:

إِذَا فَرَغَ الْإِمَامُ مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنْ كَانَ مَنْ صَلَّى خَلْفَهُ رِجَالًا لَا امْرَأَةَ المصافحة بعد الصلاة فِيهِمْ وَثَبَ سَاعَةَ يُسَلِّمُ لِيَعْلَمَ النَّاسُ فَرَاغَهُ مِنَ الصَّلَاةِ

                “Jika seorang imam sudah selesai dari shalatnya, dan  jika yang shalat di belakangnya adalah seorang laki-laki, bukan wanita, maka dia bersalaman setelah shalat bersama mereka, dan  setelah sempurna waktunya, hendaknya dia mengucapkan salam    agar manusia tahu bahwa dia telah selesai dari shalat.” (Al Hawi Al Kabir, 2/343. Darul Fikr. Beirut – Libanon)

 

 Imam Al Muhib Ath Thabari Asy Syafi’i Rahimahullah

Beliau termasuk ulama yang menyunnahkan bersalaman setelah shalat, dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari berikut:

Dari Abu Juhaifah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ

كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ الْمِسْكِ

 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada saat siang yang panas menuju Al Bath-ha’, beliau berwudhu kemudian shalat zhuhur dua rakaat, dan ‘ashar dua rakaat, dan ditangannya terdapat sebuah tombak.” Syu’bah mengatakan, dan ‘Aun menambahkan di dalamnya, dari ayahnya, dari Abu Juhaifah, dia berkata: “Dibelakangnya lewat seorang wanita, lalu manusia bangun, mereka merebut tangan nabi, lalu mereka mengusap wajah mereka dengan tangan beliau. Abu Juhaifah berkata: aku pegang tangannya lalu aku letakan tangannya pada wajahku, aku rasakah tangannya lebih sejuk dari salju, lebih wangi dari wangi kesturi.” (HR. Bukhari No. 3360,  Ad Darimi No. 1367, Ahmad No.  17476)

                Al Muhib Ath Thabari Rahimahullah mengomentari hadits ini;

 ويستأنس بذلك لما تطابق عليه الناس من المصافحة بعد الصلوات في الجماعات لا سيما في العصر والمغرب إذا اقترن به قصد صالح من تبرك أو تودد أو نحوه

            “Demikian itu disukai, hal ini lantaran manusia telah berkerumun untuk bersalaman dengannya setelah  melakukan shalat berjamaah, apalagi ‘ashar dan maghrib, hal ini jika  persentuhannya itu memiliki tujuan baik,  berupa mengharapkan berkah dan kasih sayang atau semisalnya.”   (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/362. Maktabah Al Misykah)

 Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i Rahimahullah

Dalam kitab Fatawa-nya tertulis:

( سُئِلَ ) عَمَّا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ هَلْ هُوَ سُنَّةٌ أَوْ لَا ؟ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا أَصْلَ لَهَا ، وَلَكِنْ لَا بَأْسَ بِهَا

(Ditanya) tentang apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat, apakah itu sunah atau tidak?

(Beliau menjawab): “Sesungguhnya apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat tidaklah ada dasarnya, tetapi itu tidak  mengapa.” (Fatawa Ar Ramli, 1/385. Syamilah)

  1. Ulama yang membid’ahkan bersalaman setelah sholat

Imam Izzuddin bin Abdissalam
Beliau berkata :

اَنَّهَا مِنَ اْلبِدَعِ المُبَاحَةِ
Artinya : (Mushafahah setelah shalat) adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.

 

  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hambali Rahimahullah (w. 728H)

Berikut ini dari kitab Majmu’ Fatawa-nya:

وسئل : عن المصافحة عقيب الصلاة : هل هي سنة أم لا ؟

فأجاب :

الحمد للَّه، المصافحة عقيب الصلاة ليست مسنونة، بل هي بدعة . والله أعلم .

 

Beliau ditanya tentang bersalaman sesudah shalat, apakah dia sunah atau bukan?

Beliau menjawab: “Alhamdulillah, bersalaman sesudah shalat tidak disunahkan, bahkan itu adalah bid’ah.” Wallahu A’lam (Majmu’ Fatawa, 23/339)

Imam Ibnu Taimiyah termasuk ulama yang menolak pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, apalagi pembagian bid’ah menjadi lima; bid’ah  yang wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Baginya semua bid’ah adalah dhalalah (sesat). Maka, maksud bid’ahnya salaman berjamaah   dalam fatwanya di atas adalah bid’ah yang sesat

  Syaikh ‘Athiyah Shaqr (mantan Mufti Mesir)

Beliau menjelaskan bahwa pada dasarnya bersalaman adalah sunah ketika seorang muslim bertemu muslim lainnya, berdasarkan hadits-hadits nabi yang bisa dijadikan hujjah. Namun  bersalaman setelah shalat tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat. Lalu beliau memaparkan perbedaan ulama tentang masalah ini, antara yang membid’ahkan, menyunnahkan, dan membolehkan; seperti pendapat Imam Ibnu Taimiah, Imam Al ‘Izz bin Abdissalam, Imam An Nawawi, dan Imam Ibnu Hajar. Lalu beliau menyimpulkan:

والوجه المختار أنها غير محرمة ، وقد تدخل تحت ندب المصافحة عند اللقاء الذى يكفر الله به السيئات ، وأرجو ألا يحتد النزاع فى مثل هذه الأمور ….

“Pendapat yang dipilih adalah bahwa hal itu tidaklah haram, dan hal itu telah termasuk dalam anjuran bersalaman ketika bertemu yang dengannya Allah Ta’ala akan menghapuskan kesalahannya, dan saya berharap perkara seperti ini jangan terus menerus diributkan. … (Fatawa Dar Al Ifta’ Al Mishriyah, 8/477. Syamilah)

Bersalaman sehabis Sholat

A.Latar belakang

Bersalaman sehabis sholat adalah sesuatu yang sangat dianjurkan dalam islam karena bisa dan dapat persaudaraan sesama umat. Hal ini sama sekali tidak merusak sholat karena dilakukan setelah sholat sempurna selesai, bersalaman sesudah shalat juga merupakan fenomena umum shalat berjama’ah di masjid-masjid negeri ini. Ketika imam selesai salam yang diikuti makmum, segera ia menghadap ke makmum dan menjabat tangan mereka. Kemudian para makmum saling bersalaman dengan orang yang di sebelah kanan dan kirinya, dan sering ditambah orang yang di depan dan di belakangnya. Bahkan sering orang yang selesai melaksanakan sunnah juga menyalami (menjabat tangan) kawan yang duduk di sampingnya, walaupun sudah bertemu dan bertegur sapa sebelum shalat.

B. Anjuran Bersalaman

Pada dasarnya bersalaman adalah mubah (boleh), bahkan ada yang mengatakan sunnah karena hal itu dapat memunculkan kecintaan dan kasih sayang serta menguatkan ikatan persaudaraan. 

Keutamaan salaman telah diriwayatkan oleh beberapa hadits. Salah satunya hadits Hudzaifah bin al Yaman, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya seorang mukmin apabila bertemu dengan mukmin lainnya lalu dia mengucapkan salam kepadanya serta menjabat tangannya maka akan gugurlah kesalahan-kesalahan keduanya seperti rontoknya dedaunan dari pepohon.” (HR. al-Thabrani di dalam “al Ausath”. Al Mundziriy mengatakan di dalam “at Targhib wa at Tarhib” bahwa aku tidak mengetahui jika di antara para perawinya terdapat seorang pun yang cacat.”)

Dari Salman al Farisi, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Sesungguhnya seorang muslim apabila bertemu dengan saudaranya lalu menjabat tangannya maka dosa-dosa keduanya akan gugur sebagaimana rontoknya dedaunan dari pohon kering pada hari bertiupnya angin kencang dan akan diampuni dosa keduanya walaupun dosa keduanya seperti buih di lautan.” (HR. al-Thabrani dengan sanad hasan)

Diriwayatkan juga dari Al Barra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Tidaklah dua orang muslim bertemu kemudian berjabat tangan kecuali akan diampuni dosa keduanya selama belum berpisah.” (Shahih Abu Dawud, 4343).

Ka’ab bin Malik mengatakan: “Aku masuk masjid, tiba-tiba di dalam masjid ada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian Thalhah bin Ubaidillah berlari menyambutku, menjabat tanganku dan memberikan ucapan selamat kepadaku.” (HR. Al-Bukhari 4156).

Diriwayatkan dari Qatadah, ”Aku berkata kepada Anas bin Malik, ’Apakah bersalaman dilakukan oleh para sahabat Nabishallallahu ‘alaihi wasallam,” Anas menjawab, ”Ya”. (HR. Bukhari dan Tirmidzi)

Hadits-hadits keutamaan salaman di atas menerangkan bahwa salaman yang dianjurkan adalah dilaksanakan pada saat seseorang bertemu dengan saudaranya. Dan menurut Imam An-Nawawi, berjabat tangan (salaman) telah disepakati sebagai bagian dari sunnah ketika bertemu. Ibn Batthal juga menjelaskan, “Hukum asal jabat tangan adalah satu hal yang baik menurut umumnya ulama.” (Syarh Shahih Al-Bukhari Ibn Batthal, 71/50).

C.Mengkhususkan Salaman Setelah Shalat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya tentunya sangat memahami keutamaan salaman. Namun, tidak didapatkan satu riwayatpun bahwa mereka menghususkan bersalaman setelah selesai melaksanakan shalat, baik wajib maupun sunnah. Berarti bersalaman sesudah shalat tidak dikenal pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan khulafaur rasyidin. Sedangkan hadits-hadits yang menyebutkan bersalaman itu pada saat seseorang bertemu dengan saudaranya.

Syaikh Abdullah Al Jibrin mengatakan, “Banyak orang shalat menjulurkan tangannya  untuk berjabat tangan dengan orang-orang di sekitarnya yang dilakukan setelah selesai salam dari shalat wajib, perbuatan ini adalah bid’ah tidak diriwayatkan dari salaf.”

Al-‘Izz bin Abdissalam berkata, “Berjabat tangan sesudah shalat Shubuh dan Ashar termasuk bid’ah, kecuali bagi orang yang baru datang dan berkumpul bersama orang-orang yang menyalaminya sebelum shalat. Sesungguhnya bersalaman disyari’atkan ketika baru datang. Setelah shalat, Nabishallallaahu ‘alaihi wasallam membaca dzikir yang disyariatkan, membaca istighfar tiga kali, lalu bubar.Ini yang terjadi pada zaman Al ‘Izz bin Abdissalam, sedangkan pada zaman kita bersalaman pada setiap shalat yang lima waktu dan setelah shalat-shalat sunnah.

Setidaknya ada dua kesalahan yang sering terjadi pada zaman sekarang ini. Pertama, para jama’ah tidak mengucapkan salam dan bersalaman ketika memasuki masjid dan berjumpa dengan saudaranya. Biasanya mereka langsung masuk dan melaksanakan shalat sunnah, kemudian shalat fardhu. Kedua, mereka berjabat tangan tepat setelah selesai shalat, padahal disyariatkannya pada saat bertemu.

Intinya, bahwa berjabat tangan itu baik, jika dilakukan di saat bertemu. Adapun seusai shalat, tidak ada hadits yang menerangkannya. Padahal suatu ibadah (yang dilazimi) itu harus ada dalil yang memerintahkannya. Jika tidak ada, maka tertolak dan tidak boleh diamalkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Siapa yang melaksanakan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalnya tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah radliyallah ‘anha)

Berdasarkan hadits di atas, Imam Bukhari membuat bab dalam shahihnya, “Apabila seorang yang beramal atau seorang hakim berijtihad, lalu salah karena menyelisihi Rasul tanpa didasari ilmu, maka hukumnya tersebut tertolak”. Hal ini mengindikasikan bahwa pendapat satu atau dua orang ulama tidaklah menjadi wahyu baru yang mengandung kebenaran mutlak. Pendapat mereka bisa benar dan salah, bisa diterima dan ditolak, setelah ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Dan jika salah dan menyelisihi sunnah harus ditinggalkan. Terlebih lagi, bahwa bersalaman sesudah shalat adalah tradisi kaum Syi’ah yang suka merubah-rubah ajaran Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kesalahan lain tradisi bersalaman sesudah shalat adalah memotong tasbih atau dzikir saudara muslim. Sedangkan memotong dzikir tidak diperbolehkan kecuali dengan sebab-sebab syar’i. Namun, kenyataannya sering kita saksikan banyak orang yang mengganggu dzikir saudarnya dengan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Larangan ini bukan semata-mata karena menjabat tangannya, namun juga karena terpotongnya dzikir dan kesibukan mengingat Allah Ta’ala.

Kapan Bersalaman Sesudah Shalat Dibolehkan?

Mengkhususkan salaman sesudah shalat tidak ada sunnahnya. Karenanya tidak boleh dijadikan aktifitas rutin dalam rangkaian shalat sehinga terkesan memiliki keutamaan yang lebih. Namun, jika seseorang tidak sempat bersalaman dengan saudaranya sebelum shalat, maka dibolehkan dilakukan sesudah salam atau sesudah dzikir. Bersalaman seperti ini bukan karena takhsis (menghususkan atau mengistimewakan) waktu sesudah salam untuk salaman. Tapi karena bertemu dengan kawan yang belum sempat berucap salam dan berjabat tangan.

Fatwa Syaikh Ibn Bazz

Syaikh Ibn Baaz rahimahullah mengatakan bahwa dianjurkan untuk bersalaman saat bertemu di masjid atau di shaff. Dan apabila tidak bersalaman sebelum melaksanakan shalat maka mereka bisa bersalaman setelah melaksanakan shalat sebagai bentuk pengimplementasian sunnah yang mulia serta untuk meneguhkan kasih sayang dan menghilangkan permusuhan.

Apabila tidak bersalaman sebelum shalat fardhu maka disyariatkan baginya untuk bersalaman setelahnya atau sesudah mengucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan. (Ibnu Bazz)

Adapun apa yang dilakukan oleh sebagian masyarakat yang bersegera bersalaman setelah melaksanakan shalat fardhu, setelah mengucapkan salam kedua, maka aku tidaklah mengetahui dasarnya dan yang jelas adalah bahwa hal itu adalah makruh dikarenakan tidak adanya dalil tentangnya karena yang disyariatkan bagi seorang yang shalat dalam keadaan seperti itu adalah bersegera mengucapkan dzikir-dzikir yang disyariatkan sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam setelah melaksanakan shalat fardhunya.

Adapun shalat nafilah maka disyariatkan untuk bersalaman setelah salam apabila dia tidak bersalaman sebelum melaksanakan shalat itu dan jika ia telah bersalaman sebelumnya maka hal itu sudah cukup baginya.” (Majmu’ Fatawa Ibn Baaz, juz XI, hal. 267).

 

.Pendapat para ulama

  1. A.    Ulama yang setuju dengan bersalaman setelah sholat

Imam al-Thahawi.

تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ

Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

Imam Abul Hasan Al Mawardi Asy Syafi’i Rahimahullah

Beliau mengatakan dalam kitabnya Al Hawi Al Kabir:

إِذَا فَرَغَ الْإِمَامُ مِنْ صَلَاتِهِ فَإِنْ كَانَ مَنْ صَلَّى خَلْفَهُ رِجَالًا لَا امْرَأَةَ المصافحة بعد الصلاة فِيهِمْ وَثَبَ سَاعَةَ يُسَلِّمُ لِيَعْلَمَ النَّاسُ فَرَاغَهُ مِنَ الصَّلَاةِ

                “Jika seorang imam sudah selesai dari shalatnya, dan  jika yang shalat di belakangnya adalah seorang laki-laki, bukan wanita, maka dia bersalaman setelah shalat bersama mereka, dan  setelah sempurna waktunya, hendaknya dia mengucapkan salam    agar manusia tahu bahwa dia telah selesai dari shalat.” (Al Hawi Al Kabir, 2/343. Darul Fikr. Beirut – Libanon)

 

 Imam Al Muhib Ath Thabari Asy Syafi’i Rahimahullah

Beliau termasuk ulama yang menyunnahkan bersalaman setelah shalat, dalilnya adalah hadits shahih riwayat Imam Bukhari berikut:

Dari Abu Juhaifah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْهَاجِرَةِ إِلَى الْبَطْحَاءِ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ صَلَّى الظُّهْرَ رَكْعَتَيْنِ وَالْعَصْرَ رَكْعَتَيْنِ وَبَيْنَ يَدَيْهِ عَنَزَةٌ قَالَ شُعْبَةُ وَزَادَ فِيهِ عَوْنٌ عَنْ أَبِيهِ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ

كَانَ يَمُرُّ مِنْ وَرَائِهَا الْمَرْأَةُ وَقَامَ النَّاسُ فَجَعَلُوا يَأْخُذُونَ يَدَيْهِ فَيَمْسَحُونَ بِهَا وُجُوهَهُمْ قَالَ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَوَضَعْتُهَا عَلَى وَجْهِي فَإِذَا هِيَ أَبْرَدُ مِنْ الثَّلْجِ وَأَطْيَبُ رَائِحَةً مِنْ الْمِسْكِ

 “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar pada saat siang yang panas menuju Al Bath-ha’, beliau berwudhu kemudian shalat zhuhur dua rakaat, dan ‘ashar dua rakaat, dan ditangannya terdapat sebuah tombak.” Syu’bah mengatakan, dan ‘Aun menambahkan di dalamnya, dari ayahnya, dari Abu Juhaifah, dia berkata: “Dibelakangnya lewat seorang wanita, lalu manusia bangun, mereka merebut tangan nabi, lalu mereka mengusap wajah mereka dengan tangan beliau. Abu Juhaifah berkata: aku pegang tangannya lalu aku letakan tangannya pada wajahku, aku rasakah tangannya lebih sejuk dari salju, lebih wangi dari wangi kesturi.” (HR. Bukhari No. 3360,  Ad Darimi No. 1367, Ahmad No.  17476)

                Al Muhib Ath Thabari Rahimahullah mengomentari hadits ini;

 ويستأنس بذلك لما تطابق عليه الناس من المصافحة بعد الصلوات في الجماعات لا سيما في العصر والمغرب إذا اقترن به قصد صالح من تبرك أو تودد أو نحوه

            “Demikian itu disukai, hal ini lantaran manusia telah berkerumun untuk bersalaman dengannya setelah  melakukan shalat berjamaah, apalagi ‘ashar dan maghrib, hal ini jika  persentuhannya itu memiliki tujuan baik,  berupa mengharapkan berkah dan kasih sayang atau semisalnya.”   (Al Mausu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 37/362. Maktabah Al Misykah)

 Imam Syihabuddin Ar Ramli Asy Syafi’i Rahimahullah

Dalam kitab Fatawa-nya tertulis:

( سُئِلَ ) عَمَّا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ هَلْ هُوَ سُنَّةٌ أَوْ لَا ؟ ( فَأَجَابَ ) بِأَنَّ مَا يَفْعَلُهُ النَّاسُ مِنْ الْمُصَافَحَةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ لَا أَصْلَ لَهَا ، وَلَكِنْ لَا بَأْسَ بِهَا

(Ditanya) tentang apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat, apakah itu sunah atau tidak?

(Beliau menjawab): “Sesungguhnya apa yang dilakukan manusia berupa bersalaman setelah shalat tidaklah ada dasarnya, tetapi itu tidak  mengapa.” (Fatawa Ar Ramli, 1/385. Syamilah)

  1. Ulama yang membid’ahkan bersalaman setelah sholat

Imam Izzuddin bin Abdissalam
Beliau berkata :

اَنَّهَا مِنَ اْلبِدَعِ المُبَاحَةِ
Artinya : (Mushafahah setelah shalat) adalah masuk dalam kategori bid’ah yang diperbolehkan.

 

  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Al Hambali Rahimahullah (w. 728H)

Berikut ini dari kitab Majmu’ Fatawa-nya:

وسئل : عن المصافحة عقيب الصلاة : هل هي سنة أم لا ؟

فأجاب :

الحمد للَّه، المصافحة عقيب الصلاة ليست مسنونة، بل هي بدعة . والله أعلم .

 

Beliau ditanya tentang bersalaman sesudah shalat, apakah dia sunah atau bukan?

Beliau menjawab: “Alhamdulillah, bersalaman sesudah shalat tidak disunahkan, bahkan itu adalah bid’ah.” Wallahu A’lam (Majmu’ Fatawa, 23/339)

Imam Ibnu Taimiyah termasuk ulama yang menolak pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah, apalagi pembagian bid’ah menjadi lima; bid’ah  yang wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Baginya semua bid’ah adalah dhalalah (sesat). Maka, maksud bid’ahnya salaman berjamaah   dalam fatwanya di atas adalah bid’ah yang sesat.

……………..

 Syaikh ‘Athiyah Shaqr (mantan Mufti Mesir)

Beliau menjelaskan bahwa pada dasarnya bersalaman adalah sunah ketika seorang muslim bertemu muslim lainnya, berdasarkan hadits-hadits nabi yang bisa dijadikan hujjah. Namun  bersalaman setelah shalat tidaklah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat. Lalu beliau memaparkan perbedaan ulama tentang masalah ini, antara yang membid’ahkan, menyunnahkan, dan membolehkan; seperti pendapat Imam Ibnu Taimiah, Imam Al ‘Izz bin Abdissalam, Imam An Nawawi, dan Imam Ibnu Hajar. Lalu beliau menyimpulkan:

والوجه المختار أنها غير محرمة ، وقد تدخل تحت ندب المصافحة عند اللقاء الذى يكفر الله به السيئات ، وأرجو ألا يحتد النزاع فى مثل هذه الأمور ….

“Pendapat yang dipilih adalah bahwa hal itu tidaklah haram, dan hal itu telah termasuk dalam anjuran bersalaman ketika bertemu yang dengannya Allah Ta’ala akan menghapuskan kesalahannya, dan saya berharap perkara seperti ini jangan terus menerus diributkan. … (Fatawa Dar Al Ifta’ Al Mishriyah, 8/477. Syamilah)

 

 

 

file:///D:/makalah/hadis/Mendudukkan%20Hukum%20Bersalaman%20Sesudah%20Shalat.htm

http://hadikurnia09.student.ipb.ac.id/2011/06/11/hukum-bersalaman-sesudah-shalat/

file:///D:/makalah/hadis/H.R.%20Bukhari,%20hadits%20ke%203360%20%20%20sahabat%20bersalaman%20%20%20berjabat%20tangan%20setelah%20shal.htm

Ilmu pendidikan islam

            Pendidikan islam merupakan kebutuhan mutlak untuk dapat melaksanakan islam sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Sumber pendidikan islam adalah semua bahan dan acuan  yang dapat dijadikan pijakan atau rujukan, atau titik tolak dalam usaha kegiatan dan pengembangan pendidikan yang didalamnya terdapat ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang akan ditransinternalisasikan kedalam ilmu pendidikan islam[1]. Sumber Pendidikan Islam terkadang disebut juga Dasar Ideal Pendidikan Islam.Adapun sumber ilmu pendidikan islam itu adalah :

 Al-quran

            Al Quran secara harfiah berarti bacaan atau yang dibaca.Sedangkan secara istilahi adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara malaikat jibril yang  disampaikan kepada generasi berikutnya dengan tidak diragukan.Al Quran sendiri mulai diturunkan dengan ayat-ayat pendidikan.Disini terdapat isyarat bahwa tujuan terpenting al-quran adalah mendidik manusia dengan metode memantulkan, mengajak, menelaah, membaca belajar dan observasi ilmiah tentang penciptaan manusia , alam, dan ilmu pengetahuan. Alquran sendiri terdiri daridua prinsip besar yang berhubungan dengan masalah keimanan  yang disebut Aqidah dan yang berhubungan dengan amal disebut Syariah.Beberapa ahli seperti Abdurrahman Saleh Abdullah menulis buku tentang Educational Theory Quranic Outlook dan Abudin Nata Tafsir Al-ayat al-tarbawiy.Didalam buku-buku tersebut terdapat uraian yang mendalam dan lengkap tentang ayat-ayat Al Quran yang berhubungan dengan berbagai aspek pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan islam harus menggunakan Alquran sebagai sumber dalam merumuskan berbagai teori tentang pendidikan islam sesuai dengan perubahan dan pembaharuan[2]

 As-sunah

            As Sunnah menurut para Ahli hadis adalah sesuatu yang didapatkan dari Nabi SAW yang terdiri dari ucapan,perbuatan,persetujuan,sifat fisik atau budi,atau biografi ,baik pada masa Nabi sebelum kenabian maupun sesudahnya[3].Adapun pendapat lainnya yaitu as sunnah adalah sebuah pengakuan yang dimaksud dengan pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui oleh rasulallah dan beliau membiarkan saja perbuatan atau kejadian itu berjalan. Assunah berisi tentang pedoman hidup untuk kemaslahatan hidup manusia dalam segala aspek untuk membina umat muslim yang bertakwa. Berfungsi untuk menjelaskan kandungan alquran dan juga menerangkan syariat dan adab lainnya. Maka dari pada itu sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan pribadi manusia muslim dan selalu membuka kemungkinan penafsiran berkembang.

.      Landasan dasar  pendidikan islam

            Landasan dasar  pendidikan islam dibagi dua yaitu landasan dasar  ideal dan landasan dasar operasional.

 

1)      Landasan dasar ideal

Yaitu landasan yang menjadi dasar pokok pendidikan islam yaitu alquran dan assunah yang kemudian dikembangkan menjadi atsar sahabat,ijtihad dan ijma  ulama.

  • Undang-undang Pendidikan dan Tradisi Adat

Undang-undang disini juga dapat diartikan sebagai perarturan hukum yang tidak disebutkan secara tegas didalam Al Quran Namun dalam praktiknya,undang-undang tersebut tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah dan tentunya bertujuan untuk kemaslahatan umat tanpa adanmya diskriminasi.

Sedangkan tentang tradisi dan adat yang dapat dijadikan sumber ilmu pendidikan islamyang tentunya juga tidak bertentangan dengan nash Al Quran dan tidak menyebabkan pertentangan kedurhakaan,kemudaratan.Dapat mengambil bentuk berbagai kebijakan atau tradisi tentang penyelenggaraan pendidikan.[4]

2)      Landasan dasar operasional

Yaitu implementasi dari landasan dasar ideal. Landasan ini dibagi atas empat  macam, yaitu:

  • Landasan historis

Kondisi pendidikan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dalam bidang pendidikan, kondisi social, budaya dan keyakinan yang ada pada masa lalusejarah penuh dengan muatan nilai-nilai positif baik yang relevan maupun tidak relevan dengan kehidupan generasi sekarang, disamping itu sejarah mengandung nilai-nilai yang negative namun dalam hal ini cukup dijadikan pelajaran, oleh sebab itu aspek sejarah tidak kalah penting dalam meletakkan dasar pendidikan saat ini.

  • Landasan social

Pendidikan merupakan interaksi manusia yang hanya bisa berjalan melalui jaringan kemanusiaan.Menurut H.J. langeveld menjelaskan bahwa manusia itu pada hakikatnya adalah homohominisocius.Kondisi masyarakat yang dinamis dan statis umumnya mempengaruhi kondisi pendidikan masyarakatnya.Maka, visi dan misi pendidikan adalah membebaskan manusia dari kungkungan penindasan, menggerakkan manusia untuk hidup merdeka dan bebas mewujudkan hidup yang damai dan harmonis.

 Landasan psikologis

Pendidikan melibatkan dua aspek psikologi yaitu aspek mengajar dan belajar.Hubungan psikologi dan pendidikan berhubungan dengan metode tujuan dan materi yang digunakan.

  • Landasan filosofis

Merupakan landasan yang bersumber pada pandangan hidup manusia yang paling mendasar.landasan filosofi mengandung nilai-nilai yang bersumber dari tuhan dan manusia (humanisme-teosentris).

 

  1. c.       Prinsip-prinsip pendidikan islam

Yang dimaksud dengan prinsip pendidikam islam adalah kebenaran yang dijadikan pokok dasar dalam merumuskan dan melaksanakan pendidikan islam[5].

ü  Prinsip integrasi(tauhid), prinsip ini memandang adanya wujud kesatauan dunia dan akhirat, oleh karena itu pendidikan akan meletakkan porsi yang seimbang untuk mencapai keseimbangan dunia dan akhirat

ü  Prinsip keseimbangan adalah merupakan konsekuensi dari prinsip integrasi. Keseimbangan yang proporsional antara muatan rohaniah dan jasmaniah, antara ilmu murni dan ilmu terapan, teori dan praktek dan nilai-nilai yang menyangkut tentang akidah syariah dan akhlak.

ü  Prinsip kesetaraaan , prinsip ini menekankan agar  di dalam pendidikan islam tidak terdapat ketidakadilan perlakuan,atau diskriminasi.Tanpa membedakan suku,ras,jenis kelamin,status social,latar belakang dsb, karena semua makhluk hidup diciptakan oleh tuhan yang sama,Allah SWT.

ü  Prinsip Pembaharuan

Prinsip pembaharuan merupakan perubahan baru dan kualitatif yang berbeda dari hal sebelumnya. Serta diupayakan untukmeningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu pendidikan.Menurut H.M Arifin,dalam proses pembaharuan umat islam harus mampu menciptakan model-model pendidikan yang dapat menyentuh beberapa aspek yaitu: yang mampu mengembangkan agent of technology and culture.

ü  Prinsip Demokrasi

Berasal dari kata demos: rakyat,cratein : pemerintah,prinsip pendidikan ini mengidealkan adanya partisipasi dan inisiatif yang penuh dari masyarakat.Segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pendidikan seperti srana dan prasarana,infrastruktur,administrasi,penggunaan sarjana dan sumber daya manusia lainnya hanya akan dapat diperoleh dari masyarakat.

Prinsip pendidikan yang berbasis masyarakat ini sejalan dengan dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional,yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah,orang tua dan masyarakat.

ü  Prinsip Kesinambungan

Prinsip yang saling menghubungkan antara berbagai tingkat dan program pendidikan.

ü  Prinsip Pendidikan Seumur Hidup (Long Life Education),menjelaskan bahwasanya agar setiap orang dapat terus belajar dan meningkatkan dirinya sepanjang hidupnya.Tidak pernah lelah untuk menuntut ilmu,dengan alasan ilmu dan pengetahuan itu selalu mengalami perkembangan,pembaharuan dan pergantian.

ü  Perbedaan antara Sumber Pendidikan Islam dan Sekuler

Sekuler menurut kamus ilmiah popular artinya adalah bersifat kebendaan.

George Holyoake, seorang penulis Inggris yang pertama kali menggunakan istilah sekularisme pada tahun 1846. Menurut Holyoake, “Secularism is an ethical system founded on the principle of natural morality and independent of revealed religion or supranaturalism; sekularisme adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dan terlepas dari agama-wahyu atau supranaturalisme.

Asal kata secular itu sendiri, mengutip penjelasan Syed M. Naquib al-Attas, berasal dari bahasa latinsaeculum yang berarti ruang dan waktu. Secular dalam pengertian ruang bermakna ‘dunia’ atau ‘duniawi’, sedang secular dalam pengertian waktu bermakna ‘sekarang’ atau ‘kini’. Jadi secular/saeculum bermakna ‘zaman kini’ atau ‘masa kini’, dan itu merujuk pada ‘peristiwa di dunia ini’, sehingga makna lengkapnya ‘peristiwa-peristiwa masa kini’. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Nurcholish Madjid menyatakan bahwa makna sekular itu adalah ‘kekinian’ dan ‘kedisinian’.

Dalam pandangan Syed M. Naquib al-Attas, pembenaran terhadap sekularisme seperti yang telah ditempuh oleh kelompok Islam Progresif di atas berpangkal pada tidak dipahaminya worldview (pandangan hidup/dunia) Barat dan Islam.Dalih mereka dalam membenarkan sekularisme malah semakin memperjelas keterpedayaan mereka oleh worldview Barat sebagai akibat dari ketidakkritisan mereka terhadapnya, untuk tidak dikatakan secara vulgar telah “ter-Barat-kan”.

Sekularisme, sebagaimana diakui oleh mereka, sebenarnya terjadi pada peradaban Barat yang beragama Kristen.Hal itu sangat dimungkinkan karena agama Kristen waktu itu sudah menjadi agama yang mencampuradukkan tradisi Yahudi dan Yunani-Romawi. Agama yang semula berdasar pada wahyu tersebut saat itu sudah bercampur dengan tradisi magis dan mitos.Sehingga agama tersebut selalu terikat dengan ruang dean waktu.Berbeda dengan Al Quran da Sunnah Nabi yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai aqidah dan syariat islam dan tidak dapat diganggu gugat lagi.Bahkan dalam Al Quran telah dijelaskan tentang ilmu pengetahuan,ilmiah dan tentang alam semesta jauh sebelum manusia menemukan hal-hal tersebut.

n uraian dan pemaparan diatas  dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud sumber adalah bahan dan acuan  yang dapat dijadikan pijakan atau rujukan, atau titik tolak dalam usaha kegiatan dan pengembangan pendidikan yang didalamnya terdapat ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang akan ditransinternalisasikan kedalam ilmu pendidikan islam.  

Sumber yang utama adalah Al Quran dan As Sunnah sedangkan sumber yang sekunder berasal dari sejarah,atsar sahabat serta ijtihad dan ijma’ ulama.Sedangkan dewasa ini kita mengenal adanya Undang-undang Pendidikan.

Prinsip ilmu pendidikan islam adalah nilai-nilai pokok yang dipegang teguh dan digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pendidikan islam.Sehingga terjadi keterkaitan antara semua prinsip yang telah disebutkan diatas.Dimulai dari pendidikan yang mengutamakan ketauhidan dan berhubungan dengan Ilahiyah sehingga dengan pendidikan pula terjadi adanya keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.

Kemudian tentang prinsip pendidikan yang setara untuk setiap umat tanpa adanya diskriminasi dan berbasis kemasyarakatan atau demokratis maka dapat terwujudnya sebuah pemikiran pembaharuan pendidikan islam karena pada hakikatnya ilmu dan pengetahuan selalu berkembang dan menga;ami pembaharuan.Namun tetap berpegang teguh pada kemaslahatan umat islam.Oleh karenanya,pendidikan dilakukan sepanjang hidup kita.

 

 


[1] Lihat Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir,Ilmu Pendidikan Islam,Loc.cit.,hlm.31

[2] Blog.re.or.id/pendidikan-islam-indonesia-htm

[3] Muhammad Adib Sholeh ,Lamhat fi ushul Al-Hadits,(Beirut:Al Maktabah Al Islamy,1399 H),cet ke-1,hlm.20

[4]Lihat Mahmod Qombar ,al Tarbiyah al islamiyah al Turasiyah ,jilid 1(Mesir: Dar al-syuruq,1989),cet.ke 1,hlm 87-89)

[5] Nata Abudin,Ilmu Pendidikan Islam.cet ke 1 hlm 102

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.