Aplikasi Strukturalis dalam pembelajaran Qawaid

BAB I

PENDAHULUAN

Strukturalisme merupakan gerakan pemikiran yang kembali ke bahasa yang dirintis oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913). Dalam wacana ilmu-ilmu sosial, strukturalisme merupakan penerapan analisis bahasa ke wilayah sosial. Realitas sosial adalah “teks” atau bahasa, dan bahasa selalu memiliki dua sisi: bahasa sebagai parole (tuturan percakapan lisan sebagai sisi eksekutif bahasa) dan sebagai langue (sistem tanda atau tata bahasa), dan sebagai “tanda” (sign), dalam bahasa ada dua aspek: “penanda” (signifier) dan “petanda” (signified). Semenjak strukturalisme inilah muncul pendapat bahwa bahasa sebagai sistem tanda bersifat arbiter (arbitrary).

Perkembangannya menjadi salah satu pendekatan yang paling populer di bidang akademik berkaitan dengan analisis bahasa, budaya, dan masyarakat.  Aktivitas Ferdinand de Saussure yang menggeluti bidang  linguistik inilah yang dianggap sebagai titik awal dari strukturalisme.[1]

Aliran struktural ini berdasarkan pada yang mereka yakini bahwa bahasa adalah tatanan yang berbentuk dari hubungan-hubungan terikat yang dengannya hubungan keanggotaan, termasuk adanya persamaan dan perbedaan. Bahasa ini dimulai dari tuturan atau perkataan : kalimat, kata, dan berakhir pada ciri khusus bagi satuan bunyi yang terkecil dalam bahasa yang disebut morfem. Misalnya : keras, pelan, kencang. Maknanya kaum struktural memusatkan perhatiannya pada bentuk luar bahasa khususnya lisan. Alasan pendapat mereka maka itulah asal usul bahasa.

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Definisi Strukturalisme

      Secara Etimologis struktur berasal dari kata Structure,  bahasa latin yang berarti bentuk atau bangunan. Struktur berasal dari kata Structura (Latin) = bentuk, bangunan (kata benda). System (Latin) = cara (kata kerja). Struktur sendiri adalah bangunan teoretis (abstrak) yang terbentuk dari sejumlah komponen yang berhubungan satu sama lain. Struktur menjadi aspek utama dalam strukturalisme. Dengan kata lain, strukturalisme adalah teori yang menyatakan bahwa berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai bangun teoritis (abstrak) yang terdiri atas unsur-unsur yang berhubungan satu sama lain relasi sintagmatis dan paradigmatis.

Menurut Yoseph (1997:38) menjelaskan bahwa teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks. Teori ini berdasarkan pola pemikiran secara behavioristik.[2] Paham behavioristik beranggapan bahwa jiwa seseorang dan hakikat sesuatu hanya bisa diditeksi lewat tingkah laku dan perwujudan lahiriahnya yang tampak. Sejalan dengan itu, aliran struktural mengamati bahasa dan hakikatnya dalam perwujudannya yang konkret sebagai bentuk ujaran.

B.     Sejarah Lahirnya Strukturalisme

Strukturalisme ini lahir pada abad ke 20 atau tepatnya tahun 1916. Tahun tersebut menjadi tahun monumental lahirnya strukturalisme ini, sebab pada tahun itu terbit sebuah buku berjudul “course de linguistique generale” yang dipelopori oleh ferdinand de  saussure di eropa (1857-1913).

Ferdinand de saussure merupakan tokoh yang pertama kali melakukan kajian tentang bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip ilmiah dan terkodifikasi sehingga dapat dianalisis dengan menggunakan metode yang sistematis dan jelas. Selain de saussure, linguis lain memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan aliran ini adalah: leonardo blom field, edward saphire, carles hokait dan carles Fries.[3]

Sebelum teori ini muncul, dunia linguistik belum beranjak dari teori tradisional yang selalu menerapkan pola-pola tata bahasa Yunani dan latin dalam mendeskripsikan suatu bahasa, maka linguistik strukturalis tidak demikian. Linguistik strukturalisme berusaha mendeskripsikan suatu bahasa berdasarkan ciri atau sifat khas yang dimiliki bahasa itu. Kehadiran karya de Saussure ini benar-benar dirasakan sebagai suatu revolusi.[4]

Tema utama dalam aliran ini adalah sebuah respon yang terjadi dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pemikiran skinner (seorang linguis behavioris) yang menegaskan bahwa pikiran atau makna semata-mata hanyalah sebuah khayalan dan orang yang berbicara (mutakallim) adalah sebuah perilaku bukan penyebab terjadinya perilaku. Gagasan pokok yang muncul dalam aliran strukturalisme adalah kajian tentang bahasa. Maksudnya, bahasa dapat dibagi menjadi beberapa bagian kecil yang kemudian dapat digabungkan kembali menjadi bagian-bagian tersebut.

De saussure membedakan antara aktivitas otak dan aspek perasaan disamping menjelaskan adanya hubungan antara simbol dengan pemahaman, antara bunyi-bunyi bahasa dengan huruf-huruf yang tertulis. Dia juga menyatakan bahwa soimbol tidak berarti apa-apa kalau tidak memungkinkan pembicara atau pendengar menghubungkan antara simbol dengan maknanya.[5]

C.  Teori Strukturalisme dan Bahasa

Kajian bahasa di Barat memiliki hubungan dengan para linguistik Arab terjadi pada abad ke-19 M. Namun, metode deskriptif struktural mulai ditransfer pada paruh kedua abad ke-20 M, tepatnya ketika Dr. Ibrahim Anis, linguistik Arab pertama, berhasil menyelesaikan pendidikannya di Universitas London. Ia berhasi menyusun tiga buku, yaitu al ashwat al arabiyah (fonetik bahasa Arab), fii al lahjat al arabiyah (dialek bahasa arab), dan dilalah al alfadz (semantik). Aliran strukturalisme ini memiliki pandangan tentang hakekat bahasa, antara lain:

  1. Bahasa itu adalah ujaran (lisan);
  2. Kemampuan bahasa diperoleh melalui kebiasaan yang ditunjang dengan latihan dan penguatan;
  3. Setiap bahasa memilki sistemnya sendiri yang berbeda dari bahasa lain. Oleh karena itu, menganalisis suatu bahasa tidak bisa memakai kerangka yang digunakan untuk menganalisis bahasa lainnya;
  4.  Setiap bahasa memiliki sistem yang utuh dan cukup untuk mengekspresikan maksud dari penuturnya. Oleh karena itu, tidak ada suatu bahasa yang unggul atas bahasa lainnya;
  5. Semua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zaman terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain. Oleh karena itu, kaidah-kaidahnya pun bisa mengalami perubahan;
  6. Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lembaga ilmiah, pusat bahasa, atau mazhab-mazhab gramatika.
  7. D.     Aplikasi Strukturalisme Dalam Pembelajaran Qawa’id

Landasan utama aliran strukturalisme terhadap definisi-definisi tata bahasa yaitu hanya mencakup pada makna-makna hakiki (makna dalam) saja , para linguis aliran strukturalis pun berpendapat ada tiga tahapan yang harus dilakukan dalam menganalisa suatu bahasa tahap-tahap tersebut adalah pertama menganalisis bunyi bahasa tersebut. Definisi bunyi dalam konteks ini adalah bunyi huruf konsonan dan vokal serta bunyi-bunyi lain yang meliputi intonasi, tekanan dan akhir (waqaf). Kedua menganalisis huruf-hurufnya yang meliputi kata dasar beserta tanda-tanda harakatnya. Ketiga barulah peneliti menganalisa kaidah-kaidah tata bahasanya.

Menurut aliran ini makna itu tidak perlu dianalisis secara mendalam tetapi makna cukup dianalisis sebatas memperkuat makna bahasa. (kharma:27). Pandangan stukturalis yang demikian melahirkan asumsi dalam pembelajaran bahasa yang menyatakan bahwa bahasa adalah tingkah laku (‘adah/habit), dan tingkah laku dapat dipelajari. Karena itu siswa mempelajari bahasa dengan cara memberikan respon dalam praktik-praktik, latihan, kegiatan berbahasa dan penguatan bagi respon yang benar. Lebih lanjut lagi, salah satu teknik pengajaran bahasa adalah dengan menerapkan stimulus respon dan penguatan.

Berdasarkan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan aliran strukturalisme tersebut, selanjutnya aliran ini juga menetapkan prinsip prinsip pembelajaran bahasa sebagai berikut:

  1. pemerolehan bahasa merupakan pemerolehan kebiasaan yang harus dimantapkan oleh pengulangan, latihan, penuruan, dan hafalan.
  2. segala sesuatu yang diucapkan merupakan aspek bahasa yang paling penting. Oleh karena itu seorang guru harus mengawali kegiatan pembelajarannya dengan memberikan latihan pada siswa mulai dari latihan menyimak, memahami kemudian berbicara.
  3. pebedaan antara bahasa asli siswa dengan bahasa asing yang sedang dipelajarinya perlu perhatian besar dari seorang guru untuk memprioritaskan perbedaan-perbedaan ini sehingga dapat disesuaikan ketika merancang sebuah metode pembelajaran.
  4. Guru terjemah menjelaskan kepada para siswa bahwa kita bisa membedakan konsep-konsep bahasa asing  kedalam bahasa ibu dan sebaliknya, tanpa ada perbedaan mendasar dalam kekuatan ungkapan ataupun pengaruhnya.
  5. Guru senantiasa menekankan bahwa kaidah-kaidah bahasa bukan suatu hal yang mutlak tidak mengalami perubahan, tetapi kaidah bahasa itu akan berkembang seiring dengan perkembangan bahasa itu sendiri.
  6. kaidah-kaidah bahasa hanyalah sebuah deskripsi dari bahasa yang digunakan penuturnya saat menuturkannya.
  7. Guru menekankan gejala-gejala lahiriyah bahasa seperti ucapan yang benar, ejaan yang tepat dan penggunaan ungkapan-ungkapan yang tepat. Guru harus menjelaskan kepada siswa tentang struktur bahasa pada umumnya.
  8. Menurut aliran ini, dalam proses pembelajaran bahasa siswa tidak disuguhkan dengan pertanyaan yang menuntut jawaban yang berkaitan dengan sebab-sebab logis suatu kaidah, karena bahasa itu tidak tunduk pada dasar-dasar logika. Akan tetapi, siswa akan lebih senang jika diberikan pertanyaan dengan menggunakan kata tanya “bagaimana? “ ini berarti bahwa seorang guru hendaklah menjelaskan kepada siswanya mengenai hubungan antara susunan kalimat bahasa dan fungsinya dalam mengungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan konsep-konsep bicara.
  9. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, hendaklah guru memberikan penjelasan kepada para siswa dengan penjelasan yang bersifat induktif, yakni guru memberikan penjelasannya dengan memberikan contoh-contoh sebanyak mungkin kemudian dilanjutkan dengan memberikan kesimpulan terhadap kaidah-kaidah yang sedang dipelajarinya, setelah itu diadakan kegiatan tanya jawab untuk memantapkan pemahaman siswa.[6]

Dalam pembelajaran bahasa arab khususnya salah satu cabang ilmu bahasa yang berpengaruh besar terhadap pembelajaran bahasa arab adalah pembelajaran qawa’id [7] yaitu Tarakib/Qowaid yang mengkaji tentang tata cara penggunaan struktur bahasa arab (tata bahasa), yang memusatkan perhatian pada kajian nahwu[8] dan Sharaf [9]. Pembelajran qawa’id ini juga mempunyai prinsip-prinsip pembelajaran yang seirama dengan prinsip pembelajaran bahasa yang telah di terapkan oleh strukturalisme. Adapun prinsip-prinsip yang diterapkan dalam pembelajaran qawa’id adalah sebagai berikut ;

  1. Nahwu dan sharaf bukanlah tujuan (ghayah), melainkan perantara atau media (washilah);
  2. Pembelajaran nahwu dan sharaf harus aplikatif dan fungsional, dan memfasilitasi pengembangan empat keterampilan berbahasa; dalam arti mengantarkan peserta didik untuk berbahasa secara benar : mendengar, berbicara, membaca, dan menulis secara benar;
  3. Pembelajaran nahwu dan sharaf harus kontekstual, dalam arti memperhatikan konteks kalimatyang digunakan, bukan semata-mata menekankan I’rab atau tashrif;
  4. Membelajarkan makna kalimat harus lebih didahulukan dari pada fungsi i’rab;
  5. Pembelajaran nahwu sharaf juga harus berlangsung secara gradual, bertahap: dari mudah menuju tahap lebih sulit; dari yang konkret menuju yang lebih abstrak; dari yang ada persamaannya dalam bahasa ibu menuju yang tidak ada persamaannya;
  6. Menghafal istilah dan kaidah nahwu bukan merupakan pioritas utama, melainkan hanya sekedar sarana memahamkan peserta didik akan kedudukan kata dalam kalimat;
  7. Tidak dianjurkan untuk mengembangkan i’rab yang panjang dan tidak fungsional; peserta didik cukup mengetahui: mubtada’ marfu’, fa’il marfu’, tidak perlu diikuti penjelasan tanda rafa’nya itu dhammah zhahirah fi akhirihi, dan sebagainya;
  8. Tidak dianjurkan pula dalam pembelajaran nahwu-sharaf dikembangkan teori amil, ta’lil, i’rab, taqdiri, yang bagi peserta didik mungkin sangat abstrak. Tidak praktis, dan tidak bermanfaat.[10]

Secara singkatnya pembelajaran qawa’id tidak hanya sekedar untuk pengayaan  dan penghafalan kaidah-kaidah saja, namun keempat kemahiran berbahasa seperti kemahiran menyimak (al-maharoh al-istima’)[11], kemahiran berbicara (al-maharoh al-kalam)[12], kemahiran membaca (al-maharoh al-qiro’ah)[13], dan kemahiran menulis (al-maharoh al-kitabah)[14] dapat dikuasai serta diterapkan dengan stuktur bahasa yang benar, hal inilah yang merupakan aplikasi terpenting dalam pembelajaran qawa’id. Jika prinsip-prinsip dalam pembelajaran qawa’id ini selalu diterapkan, maka pembelajaran bahasa secara fungsional dan pelajaran bahasa arab yang lebih bermanfaat akan tercipta.

Dengan adanya respon positif dari pakar pendidikan terhadap aliran strukturalisme yang memberikan pengaruh besar terhadap pembelajaran bahasa,  maka prinsip-prinsip bahasa yang dianut oleh aliran tersebut diterapkan dalam menyusunan dam memilihan aspek-aspek pembelajaran bahasa seperti : metode pengajaran, penyusunan buku-buku ajar dan materi-materi pelajaran yang sesuai serta merancang latihan yang tepat utuk siswa. Pengaruh aliran Strukturalisme ini masih dipakai sampai sekarang di setiap proses pembelajaran bahasa.

E.     Tujuan Pembelajaran Qawa’id

Agar prinsip pembelajaran bahasa dalam aliran strukturalisme, dan dalam pembelajaran dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran qawa’id maka, pembelajaran qawa’id pun tidak boleh terlepas dari tujuan-tujuan utama yang merupakan hal terpenting yang menjadi acuan untuk kebehasilan suatu pembelajaran, adapun tujuan-tujuan dalam pembelajaran qawa’id adalah sebagai berikut :

  1. Membekali peserta didik dengan kaidah-kaidah kebahasaan yang memungkinkannya dapat menjaga bahasanya dari kesalahan;
  2. Menumbuh kembangkan pendidikan intelektual  dan membawa mereka berpikir logis dan dapat membedakan antara struktur (tarakib), ungkapan-ungkapan (ibarat), kata dan kalimat;
  3. Membiasakan peserta didik cermat dalam pengamatan, perbandingan, analogi, dan penyimpulan (kaidah) dan mengembangkan rasa bahasa dan sastra (al-dzauq al-adabi) karena kajian nahwu didasarkan atas analisis lafazh. Ungkapan, uslub (gaya bahasa), dan pembedaan antara kalimat yang salah dan yang benar.
  4. Melatih peserta didik agar mampu menirukan dan mencontoh kalimat, uslub (gaya bahasa), ungkapan, dan performa kebahasaan secara benar, serta mampu menilai peforma (lisan maupun tulisan) yang menurut kaidah yang baik dan benar.
  5. Mengembangkan kemampuan peserta dididk dalam memahami apa yang didengar, (isi pembicaraan) dan yang tertulis(isi bacaan);
  6. Membantu peserta didik agar benar dalam membaca, berbicara, dan menulis atau mampu menggunakan bahasa arab lisan dan tulisan secara baik dan benar.[15]

Dapat disimpulkan bahwasannya tujuan pembelajaran qawa’id yaitu agar peserta didik mampu menggunakan dan memahami kaidah-kaidah nahwu dan sharaf secara tepat baik secara lisan maupun tulisan dari pembekalan dan pembiasan yang ada dalam pembelajaran sehingga, dapat terhindar dari kesalahan-kesalahan berbahasa.

F.  Metode pembelajaran Qawa’id

Metode-metode yang dapat diterapkan dalam pembelajran qawa’id antara lain adalah :

  1. Metode deduktif/Analogi

Inti metdode ini adalah bahwa pembelajaran qawa’id dimulai dari penyajian kaidah nahwu/sharaf terlebih dahulu, lalu diikuti dengan contoh-contoh yang dapat memperjelas kaidah yang telah dipelajari.

  1. Metode Induktif (al-yhariqah al-Istiqra’iyyah atau al-Istinbathiyyah)

Metode ini kebalikan dari metode deduktif. Pembelajaran qawa’id dengan metode ini dimulai dengan penyajian contoh-contoh yang relevan, lalu dibaca, didiskusikan, disimpulkan dalam bentuk kaidah.

  1. Metode Teks Terpadu (Thariqah al-nushuush al-mutakaamilah)

Metode ini didasarkan atas teks terpadu atau utuh yang berisi satu topik . Dalam aplikasinya peserta didik diminta membaca teks, lalu mendiskusikan kandungannya, lalu guru menunjukan kalimat-kalimat tertentu dalam teks yang mengandung unsur kaidah yang hendak dibelajarkan, kemudian dari beberapa kalimat itu diambil kesimpulan dalam bentuk kaidah, dan akhirnya peserta didik diminta untuk mengaplikasikan kaidah itu kedalam contoh-contoh kalimat baru.

  1. Metode aktivitas (Thariqah al-Nasyaath)

Untuk tahap pertama guru meminta peserta didik

Metode ini menuntut banyak aktifitas peserta didik untuk mengumpulkan kalimat dan struktur yang mengandung konsep qawa’id yang hendak dipelajari dari berbagai sumber seperti Koran, majalah, atau buku. Lalu guru mengambil kesimpulan terhadap konsep qawa’id itu, lalu menuliskannya, kemudian diaplikasikan dalam contoh-contoh lain.

  1. Metode Problem ( Thariqah al-Musykilat)

Mula-mula guru memberikan persoalan nahwu atau sharaf kepada peserta didik yang solusinya akan ditemukan melalui kaidah baru.

 

PENUTUP

Jadi Aliran strukturalisme ini memiliki pandangan tentang hakekat bahasa,bahwa Bahasa itu adalah ujaran (lisan),Setiap bahasa memilki sistemnya sendiri yang berbeda dari bahasa lain. Setiap bahasa memiliki sistem yang utuh dan cukup untuk mengekspresikan maksud dari penuturnya.Semua bahasa yang hidup berkembang mengikuti perubahan zaman terutama karena terjadinya kontak dengan bahasa lain. Sumber pertama dan utama kebakuan bahasa adalah penutur bahasa tersebut, bukan lembaga ilmiah, pusat bahasa, atau mazhab-mazhab gramatika.

Dan dalam pengaplikasiannya strukturaklisme mempunyai prinsip pembelajarannya yang salah satunya  dalam pemerolehan bahasa merupakan pemerolehan kebiasaan yang harus dimantapkan oleh pengulangan, latihan, penuruan, dan hafalan.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta: UIN Jakarta Pers, 2008), h.171

 

Prof. Dr.H. Aziz fakhrurazi, M.A. Erta Mahyudin, Lc, s.s Mpd.i Pembelajaran Bahasa Asing : Metode tradisional dan kontempporer:Bania publishing 2010

 

Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, ( Jakarta: YBMQ, 2011), h.86

Prof. Dr.H. Aziz fakhrurazi, M.A. Mukhson Nawawi.Methodology pengajaran bahasa Arab II ( MPBA ) :FITK UIN JAKARTA, 2010

Abdul Chaer, Psikolinguistik kajian Teoritik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003).

 

 

[2] Behavioristik adalah teori yang memandang bahwa perilaku manusia , termasuk perilaku berbahasa, disebabkan oleh adanya stimulus ( rangsangan , aksi,مثير) yang dengan segera akan menimbulkan (reaksi, gerak, balas, استجابات) oleh karenanya maka teori ini dinamakan juga  dengan nama stimulus respons. Abdul Chaer, Psikolinguistik kajian Teoritik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003).

[3] Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Pembelajaran Bahasa Asing, Metode Tradisional dan Kontemporer, (Jakarta: Bania Publishing, 2011), h.21

[4]Soeparno, Dasar-dasar Linguistik Umum , (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya. 2002).

[5] Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Pembelajaran Bahasa Asing, Metode Tradisional dan Kontemporer,h.21

[6] Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Pembelajaran Bahasa Asing, Metode Tradisional dan Kontemporer,h.23

[7] Qawa’id merupakan bentuk jama’ dari Qa’idah yang secara lughawi berarti fondasi, dasar pangkalan, basis model, pola dasar formula, aturan,dan prinsip. Dalam konteks ini, yang dimaksud qawa’id adalah sejumlah aturan dasar dan pola bahasa yang mengatur penggunaan suatu bhasa, baik secara lisan maupun tulisan. Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, (Jakarta: UIN Jakarta Pers, 2008), h.171

[8]  Ilmu nahwu adalah ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah mengenai perubahan keadaan suatu kata, dimana biasanya perubahan ini bisa berupa harokat akhir suatu kata atau bentuk akhir dari suatu kata.

[9] ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari kaedah-kaedah perubahan kata, dimana dengan berubahnya kata menjadikan perubahan pada artinya.

 

[10] Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, h.175-177

[11] kemahiran menyimak (al-maharoh al-istima’) adalah kemampuan atau kecakapan seseorang untuk mengidentifikasi lambing-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap is atau pesan serta memahami makna yang telah disampaikan oleh pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Aziz Fachrurrozi dan Erta Mahyuddin, Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, ( Jakarta: YBMQ, 2011), h.86

[12] kemahiran berbicara (Al-maharoh al-kalam) secara bahasa sepadan dengan istilah Speaking skill dalam bahasa inggris yang dapat diartikan keterampilan berbicara. Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan , menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (al-masmu’/audible) yang memanfaatkan sejumlah otot tubuh manusia untuk menyampaikan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Lihat Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, h.129

[13] kemahiran membaca (al-maharoh al-qiro’ah) adalah suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup atau melibatkan serangkaian-serangkaian keterampilan-keterampilan yang lenih kecil. (Broughton et.al, 1978: 90). Lihat Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, h.105

[14] kemahiran menulis (al-maharoh al-kitabah) adalah kemampuan seseorang dalam mengolah lambing-lambang grafis menjadi kata-kata, lalu kata-kata menjadi kalimat yang efektif  yang sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku, guna menyampaikan dan menginformasikan ide, buah pikiran, pendapat, pengalaman, sikap, perasaan dan emosi kepada orang lain. Lihat Teknik Pembelajaran Bahasa Arab, h.148

[15] Muhbib abdul wahab, Epistemologi dan Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab, h.174

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: